Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi mengambil langkah politik yang cukup berani. Ia meminta parlemen menggelar sidang darurat untuk memberinya otorisasi dalam merespons permintaan bantuan pertahanan dari Arab Saudi. Permintaan ini muncul di tengah meningkatnya intensitas serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur vital di Kerajaan Saudi.
Dalam pidatonya di upacara kelulusan Akademi Militer Mesir, el-Sisi menegaskan bahwa Kairo siap mengambil 'segala tindakan' untuk melindungi Arab Saudi, sejalan dengan arahan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Ia menekankan bahwa langkah ini murni untuk pertahanan, bukan untuk memulai perang atau menyerang pihak lain. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Mesir ingin terlibat langsung dalam menjaga stabilitas kawasan, terutama setelah serangan Houthi yang menargetkan bandara dan fasilitas minyak di Riyadh.
Analisis dampak bagi masyarakat: Langkah Mesir ini bukan tanpa alasan ekonomis. Pendapatan Mesir dari Terusan Suez sangat bergantung pada keamanan jalur pelayaran di Laut Merah. Jika Houthi menguasai Selat Bab al-Mandeb, arus logistik global bisa terganggu, dan kas negara Mesir terancam. Bagi masyarakat awam, ketegangan ini bisa memicu lonjakan harga minyak dunia dan biaya logistik, yang berujung pada inflasi harga barang kebutuhan pokok. Selain itu, keterlibatan militer Mesir menambah kompleksitas konflik regional yang bisa memperpanjang ketidakstabilan di Timur Tengah.