PARIS – Ketegangan politik kembali mewarnai lapangan tenis. Petenis remaja Rusia, Mirra Andreeva (19 tahun), sukses melaju ke final Grand Slam pertamanya setelah mengalahkan wakil Ukraina, Marta Kostyuk, di semifinal Perancis Terbuka, Kamis (6/6). Skor akhir 6-1, 6-3 menjadi bukti dominasi Andreeva.
Namun, yang menarik perhatian bukan hanya kemenangan telak itu. Momen tanpa jabat tangan usai pertandingan langsung menjadi sorotan. Kostyuk memilih langsung meninggalkan lapangan, hanya melambaikan tangan dan meniupkan ciuman ke arah penonton. Sebelum laga dimulai, tradisi foto bersama di depan net juga ditiadakan. Kedua pemain difoto secara terpisah, masing-masing berdiri di sisi net mereka sendiri.
Ketegangan ini bukan tanpa alasan. Sejak invasi Rusia ke Ukraina empat tahun lalu, banyak atlet Ukraina yang menolak berinteraksi dengan lawan dari Rusia. Kostyuk dan rekan senegaranya, Oleksandra Oliynykova, selama turnamen ini vokal menyuarakan dampak perang terhadap negara mereka.
Di sisi teknis, Andreeva tampil garang. Unggulan kedelapan itu langsung tancap gas dan unggul 4-0 di set pertama. Ia mengakui Kostyuk adalah lawan tangguh yang sedang dalam performa terbaik musim ini. "Saya sangat senang bisa membalas kekalahan di final Madrid. Perasaan ini belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya sangat antusias menghadapi final di Paris," ujar Andreeva.
Di final, Andreeva akan menghadapi rekan senegaranya, Diana Shnaider, atau pemain kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska. Sementara itu, di nomor ganda campuran, pasangan Italia Sara Errani dan Andrea Vavassori sukses menjadi juara.
Analisis Dampak: Insiden ini kembali membuka luka lama soal politik dalam olahraga. Sikap Kostyuk mencerminkan bagaimana perang Ukraina-Rusia masih meninggalkan trauma dan ketegangan yang tak terhindarkan, bahkan di ajang olahraga bergengsi seperti Grand Slam. Bagi masyarakat, ini menjadi pengingat bahwa batas antara olahraga dan politik semakin tipis.