China terus menggenjot pembelian emas selama 23 bulan berturut-turut. Bank sentral China (People's Bank of China) dilaporkan menambah sekitar 23 ton emas pada September lalu, menjadikannya pembelian bulanan terbesar sejak Oktober 2023. Total cadangan emas China kini mencapai sekitar 2.410 ton, naik dari 5,5 persen menjadi 8,5 persen dari total cadangan resmi negara itu.
Langkah ini bukan sekadar diversifikasi portofolio biasa. Para analis menilai China sedang berupaya mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS, terutama surat utang pemerintah AS (Treasuries). Kekhawatiran utamanya adalah tingginya utang AS dan langkah negara-negara Barat yang membekukan sekitar 300 miliar dolar AS aset Bank Sentral Rusia setelah invasi Ukraina. Peristiwa itu menjadi sinyal bahaya bagi negara-negara berkembang bahwa menyimpan dana di luar negeri punya risiko politik yang nyata.
Emas yang dibeli dan disimpan di dalam negeri dianggap lebih aman karena aksesnya tidak bergantung pada kehendak pemerintah negara lain. Sementara itu, masyarakat China juga ikut memburu emas. Pembelian emas batangan dan koin oleh rumah tangga naik 28,4 persen pada semester pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Bedanya, kalau pemerintah fokus pada strategi geopolitik dan keuangan, masyarakat awam lebih mencari tempat aman untuk menyimpan tabungan di tengah ketidakpastian ekonomi domestik.
Menariknya, tren pembelian ini terjadi justru saat harga emas sedang turun sekitar 8,5 persen dalam sebulan terakhir. Penurunan ini dipicu oleh menguatnya dolar AS dan naiknya imbal hasil surat utang pemerintah AS, yang membuat instrumen berbunga itu lebih menarik bagi investor dibanding emas yang tidak memberikan bunga.
Dampak bagi Masyarakat dan Konteks Global:
Langkah China ini bisa menjadi sinyal bagi negara-negara lain, terutama di kawasan Global South, untuk mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini relevan karena harga emas global bisa terpengaruh oleh permintaan besar dari China. Jika China terus memborong emas, harga emas dunia berpotensi kembali naik dalam jangka panjang, yang berdampak langsung pada harga perhiasan dan investasi emas di dalam negeri. Selain itu, strategi China ini juga memperkuat tren dedolarisasi yang sudah mulai terdengar di berbagai forum internasional, di mana negara-negara mulai mencari alternatif selain dolar untuk cadangan devisa dan transaksi perdagangan.