Jalur Gaza kembali membara dengan rentetan serangan udara dan tembakan dari pasukan Israel. Beberapa warga Palestina dilaporkan terluka di berbagai wilayah, termasuk Gaza City, al-Mawasi, Bureij, dan Rafah, meskipun gencatan senjata sudah disepakati sejak Oktober lalu.
Sumber medis dari kantor berita Palestina Wafa melaporkan, tembakan drone Israel pada Minggu kemarin melukai warga sipil di lingkungan Zeitoun, Gaza selatan. Tak hanya itu, di al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, dua orang termasuk seorang gadis kecil, ikut terluka akibat tembakan. Luka-luka lain juga dilaporkan terjadi di area yang seharusnya sudah ditinggalkan pasukan Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.
Kondisi semakin memburuk dengan adanya laporan dari staf medis RS al-Ahli Arab di timur Gaza City, yang menyatakan tiga warga Palestina terluka akibat tembakan Israel dekat Netzarim. Saksi mata kepada Anadolu Agency menyebut drone Israel menembaki kelompok warga tersebut. Sementara itu, dua warga Palestina lainnya juga terluka di al-Mawasi, menurut konfirmasi medis di Nasser Medical Complex.
Situasi paling mengkhawatirkan datang dari Deir el-Balah di Gaza tengah, di mana seorang pria Palestina tertembak di kepala oleh pasukan Israel. Dokter di RS Al-Aqsa Martyrs menyebut kondisinya kritis. Selain tembakan, militer Israel juga melancarkan serangan udara ke bangunan-bangunan di Rafah selatan, serta serangan artileri di timur Jabalia utara dan lingkungan Tuffah di Gaza City. Laporan Al Jazeera Arabic juga menyebut tembakan helikopter dekat kamp pengungsi Bureij dan tembakan angkatan laut Israel ke arah pantai Khan Younis.
Serangan ini terjadi di tengah kabar bahwa Hamas menyambut baik pembentukan komite teknokratis beranggotakan 15 orang Palestina. Komite ini nantinya akan beroperasi di bawah pengawasan "dewan perdamaian" yang akan diketuai oleh Presiden AS Donald Trump, dengan tugas menyediakan layanan publik bagi lebih dari dua juta warga Palestina di Gaza. Namun, komite ini menghadapi tantangan besar, termasuk masalah operasional dan pendanaan, serta kemungkinan Israel akan menghalangi geraknya.
Para pejabat Palestina menuduh Israel berulang kali melanggar gencatan senjata yang dimediasi AS, menyebabkan lebih dari 460 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.200 terluka sejak diberlakukan pada 10 Oktober. Selain itu, Israel terus membatasi masuknya bantuan pangan, medis, dan bahan tempat tinggal ke Gaza, di mana sekitar 2,2 juta orang menghadapi krisis kemanusiaan akut di tengah cuaca dingin dan hanya terlindungi tenda-tenda tipis.
Data militer Israel menunjukkan mereka masih mengendalikan sebagian besar wilayah Gaza, termasuk selatan, timur, dan utara. Sejak 7 Oktober 2023, perang yang disebut sebagai genosida oleh beberapa pihak ini telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000, dengan mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Serangan ini juga telah menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil.