Ratusan pengunjuk rasa dari kelompok sayap kanan ekstrem turun ke jalanan Manchester pada hari Sabtu. Dalam aksi unjuk rasa anti-Islam tersebut, mereka menyuarakan tuntutan tegas: deportasi massal para migran dan Muslim dari wilayah Inggris Raya.
Aksi ini menunjukkan semakin tingginya gelombang sentimen anti-imigran dan anti-Islam di beberapa bagian masyarakat Eropa, khususnya Inggris. Para demonstran percaya bahwa keberadaan migran dan Muslim mengancam identitas dan budaya Inggris, sehingga harus segera ditindak dengan kebijakan yang lebih keras.
Tentu saja, unjuk rasa ini tak berjalan tanpa respons. Media Al Jazeera melaporkan bahwa di lokasi kejadian, ada juga kelompok kontra-demonstran yang menyuarakan dukungan terhadap keberagaman dan menentang segala bentuk rasisme serta intoleransi. Kehadiran kedua kelompok ini di satu titik yang sama menggambarkan polarisasi dan ketegangan sosial yang membayangi isu imigrasi di Inggris saat ini.
Peristiwa di Manchester ini menjadi sorotan, mengingat isu migrasi dan integrasi telah menjadi topik panas di kancah politik Inggris maupun global. Tuntutan ekstrim semacam ini berpotensi memicu perdebatan lebih lanjut tentang kebijakan imigrasi dan dampak sosial jangka panjangnya bagi masyarakat majemuk. Insiden serupa di berbagai kota Eropa seringkali berakhir dengan gesekan, memperdalam jurang perbedaan di antara warga.