Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial. Dalam sebuah kampanye Partai Republik di Mississippi, ia mengusulkan untuk mengganti nama Samudra Atlantik menjadi 'Samudra Amerika'.
Trump beralasan bahwa Amerika Serikat perlu memiliki samudra dan sungai yang namanya sesuai dengan identitas negara, menyusul langkahnya sebelumnya yang telah mengganti nama Teluk Meksiko menjadi 'Teluk Amerika' dan Danau Michigan menjadi 'Danau Amerika'.
Usulan ini sontak menuai reaksi beragam. Secara historis dan geografis, Samudra Atlantik merupakan nama yang telah diakui secara internasional dan digunakan dalam berbagai perjanjian serta peta navigasi global. Perubahan nama sepihak berpotensi menimbulkan kebingungan dalam dunia pelayaran dan penerbangan internasional.
Pengamat politik menilai pernyataan ini sebagai strategi retorika untuk memperkuat sentimen nasionalisme di kalangan pendukungnya menjelang pemilu. Namun, bagi masyarakat umum, terutama di negara-negara yang berbatasan langsung dengan Samudra Atlantik, usulan ini dianggap sebagai bentuk arogansi politik yang mengabaikan norma internasional.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah negara-negara Eropa atau organisasi internasional terkait usulan kontroversial tersebut.