Beirut, Lebanon – Kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, dengan tegas menolak kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon. Dalam pernyataan keras, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyebut negosiasi tersebut 'sia-sia' dan 'memalukan' bagi Lebanon, serta ditolak oleh 'sebagian besar rakyat Lebanon'.
Penolakan ini muncul setelah Israel dan Lebanon mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang rapuh dengan pembentukan 'zona percontohan' keamanan di dalam wilayah Lebanon, di mana personel Hizbullah dilarang beroperasi. Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu oleh Departemen Luar Negeri AS, ketiga negara menyatakan kesepakatan itu bergantung pada 'penghentian total' tembakan oleh Hizbullah.
Namun, merespons pada Kamis, pemimpin Hizbullah—yang tidak terlibat dalam pembicaraan—mengatakan bahwa 'gencatan senjata yang seharusnya' ditafsirkan sebagai Hizbullah menghentikan tembakan dan menarik para pejuang dari front selatan dengan Israel. Menurutnya, ini sama saja dengan menyerah dan akan memenuhi tujuan Israel.
Suasana serupa juga terlihat di jalan-jalan pinggiran selatan Beirut—kubu kuat Hizbullah, yang juga dikenal sebagai Dahieh. Seorang pemilik toko, Sami, yang telah menjalankan usahanya di sana selama 25 tahun, mengungkapkan keraguannya kepada BBC. 'Anda tidak bisa memiliki gencatan senjata dari satu sisi saja. Ini harus semua pihak atau tidak sama sekali,' katanya. Ia menambahkan, jika ini yang disebut gencatan senjata, lalu apa sebutan untuk serangan yang masih terjadi? 'Ini penyerahan diri. Ini bukan perjanjian damai. Ini perjanjian menyerah,' tegasnya.
Analisis Dampak: Penolakan Hizbullah membuat kesepakatan yang sudah rapuh ini semakin tidak pasti. Jika gencatan senjata gagal, warga sipil di Lebanon selatan dan Israel utara kembali terancam. Situasi ini juga memperumit posisi pemerintah Lebanon dan militer Lebanon yang berada di tengah tekanan internasional dan kekuatan Hizbullah. Tanpa peta yang jelas dan mekanisme penegakan yang konkret, zona percontohan yang diusulkan hanya akan menjadi 'kertas basah'.