Jakarta - Penghargaan FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi besar dicabut. Pasalnya, sejumlah anggota Dewan FIFA mempertanyakan nilai penghargaan tersebut dan meminta penghentiannya.
Dilansir dari laporan media internasional, permintaan ini muncul dalam pertemuan Dewan FIFA di Zurich, Swiss. Beberapa negara anggota menilai penghargaan tersebut menyimpang dari fokus tradisional FIFA yang seharusnya berada di ranah olahraga, bukan politik. Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola FIFA yang beranggotakan 22 orang kini ditugaskan untuk mengkaji manfaat penghargaan tersebut dan dijadwalkan memberikan rekomendasi sebelum pertemuan dewan berikutnya di Doha, Qatar, pada 16 Desember mendatang.
FIFA sendiri baru menciptakan penghargaan tahunan bertajuk "FIFA Peace Prize – Football Unites the World" pada 5 November lalu. Penghargaan ini diklaim sebagai bentuk apresiasi bagi individu yang melakukan tindakan luar biasa untuk perdamaian. Trump menjadi penerima pertama penghargaan ini pada Desember, tak lama setelah ia gagal meraih Nobel Perdamaian. Dalam pidatonya saat itu, Trump menyebut penghargaan tersebut sebagai salah satu kehormatan terbesar dalam hidupnya.
Namun, pemberian penghargaan ini menuai kritik tajam. Kritikus menyoroti waktu penyerahan yang dinilai janggal, mengingat kurang dari 24 jam sebelumnya pemerintahan Trump melancarkan serangan udara mematikan di Karibia. Selain itu, hubungan erat antara Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino juga menjadi sorotan, di mana Infantino sebelumnya secara terbuka menyatakan dukungannya agar Trump memenangkan Nobel Perdamaian.
Analisis Dampak: Langkah FIFA ini menunjukkan adanya tekanan publik dan internal organisasi untuk menjaga netralitas olahraga dari pengaruh politik praktis. Bagi masyarakat global, terutama penggemar sepak bola, isu ini menjadi pengingat bahwa organisasi olahraga internasional seringkali berada di persimpangan antara idealisme perdamaian dan realitas geopolitik yang rumit. Keputusan untuk mencabut atau mempertahankan penghargaan ini akan menjadi indikator seberapa besar FIFA mampu memisahkan diri dari kepentingan politik para pemimpin dunia.