San Francisco, AS - Raksasa kecerdasan buatan (AI) Anthropic mencatatkan lonjakan pendapatan yang sangat signifikan. Perusahaan pengembang chatbot Claude ini membukukan pendapatan sebesar $16,8 miliar (sekitar Rp 270 triliun) pada kuartal III 2025, melonjak 45% dibandingkan periode sebelumnya.
Angka fantastis ini terungkap saat manajemen Anthropic memaparkan kinerja mereka kepada calon investor di markas besar mereka di San Francisco. Langkah ini merupakan persiapan matang menuju penawaran umum perdana (IPO) alias melantai di bursa saham yang diperkirakan terjadi sebelum akhir tahun.
Kinerja cemerlang Anthropic ini kontras dengan kondisi pasar saham teknologi yang sedang bergejolak. Beberapa saham perusahaan chip dan perangkat keras pendukung pusat data justru mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Pasar tampaknya mulai khawatir dengan besarnya biaya infrastruktur AI yang membengkak hingga ratusan miliar dolar.
Meski begitu, pertumbuhan pendapatan Anthropic sepanjang tahun ini terbilang konsisten. Pada kuartal I, pendapatan mereka tercatat $4,7 miliar, lalu naik tajam menjadi $11,6 miliar di kuartal II. Perusahaan juga dilaporkan mencetak laba untuk dua kuartal berturut-turut, sebuah pencapaian langka di industri AI yang biasanya masih merugi.
Namun, sentimen pasar global sedang tidak baik-baik saja. Saham raksasa chip seperti AMD, Nvidia, dan Intel kompak melemah. Di Asia, saham Softbank terjun bebas lebih dari 9%, disusul raksasa semikonduktor Korea Selatan, Samsung (-9,4%) dan SK Hynix (-10,8%). Bursa Kospi dan Kosdaq bahkan sempat dihentikan sementara (trading halt) setelah anjlok lebih dari 8%.
Penurunan ini dipicu oleh pernyataan CEO Broadcom, Hock Tan, yang menilai banyak investor 'tidak mengerti apa-apa' dan memiliki ekspektasi ekstrem terhadap AI, mirip seperti berjudi di kasino. Selain itu, isu keamanan teknologi AI juga menjadi bayang-bayang, dengan CEO OpenAI, Sam Altman, yang memilih menunda IPO demi membenahi aspek keselamatan teknologi tersebut.