IBU KIAPER TIDAK BISA LIHAT ANAK MAIN PIALA DUNIA - Berita Dunia
← Kembali

IBU KIAPER TIDAK BISA LIHAT ANAK MAIN PIALA DUNIA

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah haru datang dari gelaran Piala Dunia 2026. Ana Candida Evora, ibu dari kiper Timnas Cape Verde, Vozinha, harus merelakan momen bersejarah melihat sang anak berlaga di Piala Dunia karena terkendala biaya visa Amerika Serikat yang selangit.

Vozinha, yang nama aslinya Josimar Dias, tampil heroik dengan menahan gempuran lini depan Spanyol hingga skor 0-0 di laga debut Cape Verde. Usai pertandingan di Atlanta, ia tak kuasa menahan air mata saat mengungkapkan sang ibu tak bisa hadir. "Ibu saya tidak bisa ke sini karena masalah visa. Biaya visanya, kami tidak bisa memenuhinya tepat waktu," ujarnya.

Masalahnya bermula dari kebijakan baru pemerintah AS di bawah Donald Trump yang mewajibkan warga Cape Verde membayar jaminan (bond) hingga 15.000 dolar AS untuk bisa masuk ke AS. Kebijakan ini diterapkan untuk menekan angka pelanggaran visa. Meski kemudian aturan itu dilonggarkan bagi pemegang tiket Piala Dunia, namun bagi Ana, keputusan sudah terlanjur diambil. Ia mengaku sangat ingin datang, tapi biaya yang membengkak membuatnya urung menempuh perjalanan sejauh 6.400 kilometer.

Pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries, bereaksi keras. Ia meminta Menteri Luar Negeri Marco Rubio melakukan segala cara agar Ana bisa menonton laga berikutnya. "Tidak ada ibu yang boleh melewatkan momen melihat anaknya membuat sejarah," kata Jeffries.

Pihak Departemen Luar Negeri AS menyatakan tidak ada catatan permohonan visa dari Ana, namun menegaskan keluarga pemain berhak mendapatkan keringanan biaya jaminan visa. Mereka mengaku sedang aktif menghubungi keluarga Vozinha untuk membantu proses visa.

Insiden ini menyoroti kerasnya kebijakan imigrasi AS yang menghantam negara-negara kecil. Sebelumnya, wasit asal Somalia dan sejumlah staf timnas Iran juga bermasalah dengan visa. Presiden Federasi Sepak Bola Cape Verde, Mario Semedo, menegaskan bahwa biaya perjalanan, akomodasi, dan tiket menjadi beban berat bagi warga negara kecil yang ingin mendukung timnya di Piala Dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook