Gelombang serangan mematikan makin parah di Timur Tengah, menandai eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat dan Iran. Laporan terbaru menyebutkan dua remaja tewas di Shiraz, Iran, akibat serangan Israel pada Rabu malam. Tak lama berselang, militer Israel mengumumkan gempuran besar-besaran terhadap kota Isfahan di Iran tengah.
Dampak ke warga sipil terus memburuk. Pada Kamis, Uni Emirat Arab melaporkan dua orang tewas di Abu Dhabi setelah serpihan rudal jatuh di jalan utama, di tengah rentetan serangan Iran di Teluk. Serangan di Iran sendiri tak henti-hentinya, bahkan kian intens dan meluas ke kota-kota seperti Bandar Abbas, Karaj, bandara Lamerd, hingga Mashhad dan Taybad yang sebelumnya relatif aman dari konflik.
Di sisi lain, Iran juga meluncurkan serangkaian rudal yang melukai beberapa orang di Israel tengah, termasuk tiga warga di Kfar Qasim. Sirene peringatan rudal bahkan meraung di wilayah sentral Israel, area Yerusalem, dan sebagian Tepi Barat yang diduduki.
Di tengah panasnya situasi ini, Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengklaim kesepakatan damai sudah dekat, meskipun Iran berulang kali menolak rencana gencatan senjata 15 poinnya dan bersikeras mengajukan tuntutan sendiri. Trump tetap yakin negosiasi sedang berjalan, menuduh pemimpin Iran takut untuk mengakuinya di depan publik.
Selain itu, negara-negara Teluk lainnya juga melaporkan serangan. Arab Saudi berhasil menembak jatuh lima drone ke arah Provinsi Timur, tak lama setelah mencegat 17 drone lain. Kuwait juga mencegat dua drone yang melindungi situs-situs penting, sementara Bahrain memadamkan api di sebuah fasilitas di Muharraq tanpa menimbulkan korban jiwa. Semua insiden ini terjadi di tengah klaim Iran menargetkan aset AS di kawasan tersebut.
Situasi ini jelas menunjukkan bahwa konflik regional telah memasuki babak baru yang lebih berbahaya, bukan hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga berakibat fatal bagi warga sipil. Perluasan geografis target serangan mengindikasikan bahwa setiap pihak meningkatkan taruhannya, memperpanjang daftar korban, dan memperkeruh upaya diplomasi. Klaim Trump yang kontras dengan penolakan Teheran menambah ketidakpastian akan prospek perdamaian, membuat kawasan ini semakin rentan terhadap konflik terbuka yang lebih besar.