Setelah sempat dinyatakan lenyap pada tahun 2000 silam, virus campak kini kembali menghantui Amerika Serikat dengan skala wabah terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencatat telah terjadi tiga kematian akibat virus ini sepanjang tahun berjalan, memicu kekhawatiran serius di kalangan pakar kesehatan.
Matt Ferrari, Direktur Pusat Dinamika Penyakit Menular Universitas Negeri Pennsylvania, menyebut bahwa keberhasilan AS di masa lalu justru membuat masyarakat 'terlalu nyaman' dan melupakan bahaya penyakit ini. "Kita sudah terlalu lama merasa aman dan lupa betapa ganasnya campak," ujarnya. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya cakupan vaksinasi pada anak TK yang anjlok dari 95,2 persen (2019-2020) menjadi hanya 92,4 persen pada tahun ajaran 2025-2026.
Negara bagian Pennsylvania menjadi episentrum wabah terparah. Otoritas setempat mencatat lebih dari 1.200 kasus dan 240 rawat inap di 42 kabupaten. Situasi ini memaksa Gubernur New York, Kathy Hochul, mengambil langkah darurat dengan mendeklarasikan status bencana di wilayah pedesaan guna memperluas akses vaksinasi. Para ahli mengingatkan bahwa penurunan vaksinasi di satu titik geografis dapat membahayakan populasi global, menjadikan pencegahan campak sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan satu negara.