Investigasi independen terbaru oleh Forensic Architecture dan Earshot telah merilis temuan mengerikan terkait insiden penembakan konvoi pekerja kemanusiaan di Tal as-Sultan, Gaza selatan, pada Maret lalu. Laporan ini menunjukkan bahwa tentara Israel menembakkan lebih dari 900 peluru ke arah kendaraan darurat Palestina yang berbendera jelas, bahkan sebelum maju untuk membunuh pekerja bantuan yang selamat, beberapa di antaranya ditembak 'gaya eksekusi' dari jarak dekat.
Sebanyak 15 pekerja bantuan tewas dalam serangan pada 23 Maret itu, termasuk paramedis dari Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), petugas pemadam kebakaran dari Pertahanan Sipil Palestina (PCD), serta seorang staf badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA). Temuan ini secara telak membantah klaim awal militer Israel yang menyebut kendaraan itu 'tidak terkoordinasi' atau hanya sebagai 'kesalahan profesional'. Sebaliknya, analisis forensik menggambarkan sebuah penyergapan terkoordinasi, tanpa adanya tembakan balasan dari pihak Palestina, dan tindakan yang diperhitungkan untuk melenyapkan para penyintas.
Investigasi ini sangat bergantung pada teknik 'situated testimony' dan balistik audio canggih untuk menganalisis suara tembakan, guna menentukan jarak penembak, jenis senjata, dan arahnya. Para peneliti menganalisis rekaman yang ditemukan dari ponsel paramedis Rifaat Radwan, salah satu korban tewas, yang mulai merekam pada pukul 05:09 pagi saat penyergapan dimulai. Dalam video berdurasi lima setengah menit itu, setidaknya 844 tembakan terekam. Dikombinasikan dengan rekaman lain, jumlah total tembakan yang didokumentasikan mencapai setidaknya 910.
Dalam video tragis itu, direkam dari dalam salah satu dari dua ambulans terakhir, Radwan terdengar meminta maaf kepada ibunya dan melafalkan syahadat sebelum dia meninggal. Analisis Earshot menunjukkan, 93 persen tembakan memiliki tanda akustik khusus: 'gelombang kejut supersonik' diikuti oleh ledakan moncong senjata. Kombinasi ini menegaskan bahwa kamera – dan para pekerja bantuan yang berkumpul di sekitarnya – berada langsung dalam garis tembak.
Laporan tersebut menyatakan, 'Kepadatan tembakan... seringkali melebihi 900 peluru per menit,' bahkan pada satu titik, lima tembakan dilepaskan hanya dalam 67 milidetik. Tingkat tembakan yang sangat cepat ini memastikan setidaknya ada lima penembak, kemungkinan besar lebih banyak, yang menembak secara bersamaan dari gundukan pasir yang lebih tinggi sekitar 40 meter jauhnya. 'Tentara Israel menyergap dan menyerang pekerja bantuan Palestina secara terus-menerus dengan tembakan selama lebih dari dua jam,' antara pukul 05:09 pagi dan 07:13 pagi, jelas laporan tersebut.
Temuan ini menambah panjang daftar kekhawatiran global terhadap keselamatan pekerja kemanusiaan di zona konflik dan semakin memperdalam krisis kepercayaan terhadap narasi resmi yang disampaikan oleh pihak militer. Pembantaian metodis terhadap pekerja kemanusiaan, yang seharusnya dilindungi, memicu tuntutan keras dari masyarakat internasional untuk adanya investigasi independen yang transparan serta akuntabilitas penuh atas kejahatan perang yang mungkin terjadi. Insiden seperti ini memperparah krisis kemanusiaan di Gaza, menghambat upaya bantuan vital, dan mengirimkan pesan mengerikan tentang risiko yang dihadapi oleh mereka yang berusaha menolong.