Mantan Direktur FBI James Comey kembali menghadapi tekanan hukum dari pemerintahan Donald Trump. Untuk ketiga kalinya sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, Comey dituduh melakukan pelanggaran pidana. Dokumen tertutup yang terungkap pada Senin (10/11) mengungkap bahwa administrasi Trump menjerat Comey dengan dua dakwaan terkait penyebaran informasi pertahanan nasional secara ilegal.
Dalam berkas pengadilan Oktober, jaksa menuduh Comey memerintahkan rekan-rekannya di FBI untuk membocorkan informasi sensitif kepada media. Tuduhan ini spesifik merujuk pada artikel New York Times edisi 5 Oktober 2016 yang mengulas perintah kepada Yahoo untuk memindai lalu lintas situs mereka guna mendeteksi tanda komputer yang diduga terkait organisasi teroris. Jaksa menuding Comey mengarahkan informasi rahasia itu kepada reporter Charlie Savage.
Menariknya, Comey belum resmi didakwa dalam kasus ini. Pengacara Comey, Pat Fitzgerald, menyebut tuduhan tersebut sebagai langkah lemah. Ia menegaskan bahwa pemerintah sebelumnya sudah dua kali menyelidiki kasus ini dan memutuskan tidak ada dasar untuk menuntut siapa pun. Fitzgerald juga menyoroti langkah jaksa yang menggunakan prosedur 'criminal information' untuk melewati grand jury, sebuah manuver yang dinilai tidak lazim sepuluh tahun setelah artikel tersebut terbit.
Comey sendiri membalas tuduhan ini melalui video di platform Substack. Ia menilai upaya hukum ini sebagai bentuk pembalasan politik yang mengerikan dari Departemen Kehakiman. 'Saya masih tidak bersalah, dan saya masih tidak takut pada orang-orang ini,' tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa Trump baru di pertengahan masa jabatan keduanya, mengisyaratkan kemungkinan tuduhan lain akan menyusul. Kasus ini diprediksi semakin memanaskan tensi politik AS menjelang tahun-tahun krusial pemerintahan Trump.