Damaskus, Suriah — Sebuah pemandangan memilukan tersaji di kawasan Jobar, pinggiran timur Damaskus. Hampir 95 persen bangunan di sana rata dengan tanah setelah bertahun-tahun menjadi medan tempur dan sasaran bom selama perang saudara Suriah yang berlangsung 13 tahun. Kini, kawasan itu hanya menyisakan puing-puing dan kenangan pahit bagi para mantan penduduknya.
Ahmad, seorang pria Suriah berusia pertengahan 30-an, kembali menapaki jalan bebatuan di Jobar untuk pertama kalinya setelah delapan tahun mengungsi. Ia menunjuk sebuah rumah kecil yang nyaris roboh. "Itu rumah kakek saya," ujarnya kepada Al Jazeera, enggan menyebut nama lengkap karena alasan keamanan. Rumah ibunya dan toko pakaian kecil milik keluarga juga tinggal puing.
Jobar bukan selalu seperti ini. Sebelum perang pecah pada 2011, kawasan itu adalah lingkungan yang ramai, rumah bagi masjid bersejarah dan sinagoga. Namun, sejak dikuasai kelompok oposisi antara 2012 hingga 2018, Jobar berubah menjadi lini depan perang. Serangan udara, artileri, dan bahkan gas kimia dari pasukan pemerintah menghancurkan hampir seluruh wilayah. Warga menyebut jaringan terowongan bawah tanah yang rumit di sana sebagai "Segitiga Bermuda" karena banyak orang tersesat di dalamnya.
Pada 2018, rezim Bashar al-Assad saat itu mencapai kesepakatan dengan kelompok oposisi. Warga dan pejuang diizinkan pergi, mayoritas ke Idlib. Setelah itu, pemerintah melarang siapa pun masuk kembali. Akibatnya, Jobar berubah menjadi kota mati. Kini, setelah Assad digulingkan dan melarikan diri ke Rusia pada Desember 2024, beberapa warga mulai berani kembali untuk melihat rumah mereka.
Salem Sawan (59), mantan tenaga medis, menjadi salah satu yang ingin pulang. Ia masih menyewa apartemen di pinggiran kota dan mengaku dilarang membangun ulang rumahnya. "Pemerintah baru belum memberi izin," katanya. Masalahnya tak hanya soal izin. Jaringan terowongan yang runtuh, ranjau darat yang belum dibersihkan, dan bangunan yang ambles akibat tanah kosong di bawahnya menjadi ancaman nyata.
Analisis Dampak: Kisah Jobar adalah cerminan kegagalan rekonstruksi pasca-perang di Suriah. Selain infrastruktur yang luluh lantak, sanksi internasional yang membelenggu ekonomi Suriah membuat proses pembangunan kembali berjalan sangat lambat. Tanpa pendanaan yang jelas dan izin resmi, para pengungsi terpaksa hidup dalam ketidakpastian. Jobar bukan hanya cerita tentang bangunan yang hancur, tapi juga tentang mimpi yang buyar dan masa depan yang suram bagi jutaan warga Suriah yang ingin pulang ke rumah mereka.