Mogadishu, Somalia — Yusuf Ali (34), seorang pemilik toko di Mogadishu, masih bergulat dengan trauma masa lalunya sebagai tentara anak. Ia terlibat dalam pemberontakan Islamis yang meletus hampir 20 tahun lalu di ibu kota Somalia tersebut. Meskipun wajah kota kini mulai pulih, sumber daya untuk pemulihan psikologis para penyintas konflik masih sangat minim.
Ali kehilangan ayahnya saat berusia satu tahun dalam 'Pertempuran Mogadishu' yang legendaris, ketika pesawat Black Hawk Amerika ditembak jatuh. Namun, trauma terbesarnya justru datang saat invasi Ethiopia pada 2006. Saat itu, ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. "Malam hari, saya sering mendengar suara dengung. Saya tidak sadar itu pesawat pemantau," kenangnya kepada BBC.
Puncaknya terjadi pada musim semi 2007, ketika pertempuran sengit melanda lingkungan padat penduduk. "Rumah kami berguncang hebat. Tanah terasa bergerak. Lalu saya mendengar jeritan," ujarnya. Saat itulah ia melihat mayat seorang gadis seusianya. "Saya melihat bercak darah dan tubuh tergeletak. Dia tidak bergerak," tambahnya.
Ali adalah bagian dari gelombang anak-anak yang direkrut oleh Al-Shabab, kelompok militan yang lahir dari Uni Pengadilan Islam. Invasi Ethiopia yang didukung Amerika justru memicu perlawanan sengit dan menjadikan anak-anak sebagai garda depan pertempuran jalanan.
Analisis: Kisah Ali bukan sekadar cerita masa lalu. Data menunjukkan bahwa Somalia masih menghadapi krisis kesehatan mental akut pasca-konflik. Minimnya layanan psikososial membuat mantan tentara anak rentan mengalami PTSD dan kesulitan beradaptasi dengan kehidupan sipil. Tanpa intervensi serius, trauma ini berpotensi melahirkan siklus kekerasan baru di generasi berikutnya.