EFEK KEJUT: SAYAP KANAN EROPA TAK KONSISTEN? - Berita Dunia
← Kembali

EFEK KEJUT: SAYAP KANAN EROPA TAK KONSISTEN?

Foto Berita

Kabar mengejutkan datang dari kancah politik Eropa. Partai-partai sayap kanan, yang belakangan ini gencar menguasai narasi, justru harus menelan pil pahit dalam sejumlah pemilihan dan referendum di Prancis, Italia, serta Slovenia. Meski begitu, para pengamat memperingatkan agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan jangka panjang.

Di Prancis, gelombang kemenangan justru berpihak pada kekuatan sentris dan kiri-tengah. Mereka berhasil mengamankan kursi penting di Paris, Lyon, dan bahkan Marseille – kota yang sempat diincar ketat oleh partai sayap kanan, National Rally (RN). Ini menunjukkan bahwa di kota-kota besar, narasi sayap kanan belum mampu menembus dominasi lawan politiknya.

Namun, jangan salah sangka. Kekuatan sayap kanan di Prancis bukannya tanpa taring. RN justru berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya di puluhan kota menengah dan kota-kota kecil. Bahkan, Eric Ciotti, pemimpin partai sayap kanan lainnya, berhasil memenangkan Nice, kota terbesar kelima di Prancis. Analis David Broder dari majalah Jacobin menyebut, fokus utama RN memang bukan di kota-kota besar, melainkan basis massa di kota-kota kecil, di mana mereka menuai sukses besar. Posisinya dalam jajak pendapat pun disebut "lebih baik dari sebelumnya," meski pertanyaan besar tetap: apakah ada 'langit-langit' elektoral yang sulit ditembus di pemilihan mayoritas?

Tak hanya Prancis, Slovenia juga memberi kejutan. Dalam pemilihan parlemen, Perdana Menteri Robert Golob dari gerakan liberal Freedom Movement (GS) berhasil menyingkirkan mantan PM Janez Jansa yang berhaluan kanan dari Slovenian Democratic Party (SDS). Sementara di Italia, PM Giorgia Meloni dari sayap kanan juga kena batunya. Reformasi yudisial andalannya ditolak dalam sebuah referendum konstitusi, yang banyak dipandang sebagai ujian kepemimpinannya.

Gabor Scheiring, profesor di Georgetown University, menggambarkan situasi ini sebagai "gambaran yang benar-benar campur aduk." Ia menekankan bahwa siapa pun yang mencoba menyederhanakan narasi sedang "terlalu menyederhanakan." Ini bisa jadi indikasi bahwa momentum sayap kanan, yang selama ini didorong isu migrasi, inflasi, dan politik identitas, mulai melambat dalam meraih kemenangan mutlak. Tapi, bisa juga ini hanya kemunduran sesaat yang terisolasi.

Dampak bagi masyarakat Eropa cukup kompleks. Hasil ini menunjukkan dinamika politik yang bergejolak, di mana pemilih perkotaan dan pedesaan mungkin memiliki prioritas berbeda. Meskipun narasi sayap kanan mendapatkan traksi, utamanya di daerah-daerah lebih kecil, mereka masih menghadapi resistensi kuat di pusat-pusat kota besar. Ini bisa menjadi tanda bahwa masyarakat perkotaan cenderung lebih terbuka terhadap keberagaman dan menolak pendekatan politik yang terlalu ekstrem.

Bahkan, jika melihat ke depan, jajak pendapat Ipsos pada November lalu masih menunjukkan peluang besar bagi pemimpin sayap kanan Marine Le Pen atau Jordan Bardella (RN) untuk memenangkan pemilihan presiden Prancis 2027. Ini berarti, meski ada 'sandungan' kecil saat ini, kekuatan sayap kanan Eropa masih menjadi pemain kunci yang patut diperhitungkan di masa mendatang.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook