SERANGAN RUSIA HANTAM JEMBATAN STRATEGIS KIEV - Berita Dunia
← Kembali

SERANGAN RUSIA HANTAM JEMBATAN STRATEGIS KIEV

Foto Berita

Konflik Rusia-Ukraina kembali memanas dengan eskalasi serangan yang menyasar infrastruktur vital. Dalam gelombang serangan terbaru, pasukan Rusia dilaporkan menghantam Jembatan Selatan di Kiev, ibu kota Ukraina. Serangan udara ini tidak hanya menyasar jembatan, tetapi juga melibatkan kekuatan besar berupa 16 rudal balistik dan lebih dari 280 drone yang menghujani wilayah tersebut sepanjang malam.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengecam keras aksi tersebut. Ia menyebut Rusia sengaja menargetkan jalur logistik utama, bahkan melakukan serangan susulan saat tim darurat sedang menangani korban dan kerusakan dari serangan pertama. "Ini adalah eskalasi serius dalam kampanye Rusia yang menargetkan logistik kami," ujar Zelenskyy. Dampak serangan juga terasa di wilayah lain seperti Kharkiv dan Pavlohrad yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Menariknya, serangan ini terjadi tepat saat upaya diplomasi mulai menggeliat. Rusia dan Ukraina dilaporkan telah sepakat untuk menggelar pertemuan teknis di Abu Dhabi pada awal November mendatang, dengan Amerika Serikat bertindak sebagai mediator. Di tengah situasi panas ini, Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store melakukan langkah langka dengan menelepon langsung Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam panggilan tersebut, mereka menekankan pentingnya de-eskalasi dan mendesak Rusia untuk menghentikan perang yang berkepanjangan.

Analisis Singkat: Serangan terhadap Jembatan Selatan ini menunjukkan bahwa Rusia tampaknya ingin memperkuat posisi tawar mereka di medan perang sebelum duduk di meja perundingan. Bagi masyarakat sipil, situasi ini sangat berbahaya karena infrastruktur publik menjadi sasaran utama, yang berdampak pada terputusnya akses bantuan dan mobilitas warga. Sementara itu, keterlibatan negara-negara Nordik (Finlandia dan Norwegia) dalam dialog langsung dengan Putin menandakan adanya kekhawatiran besar di Eropa bahwa konflik ini bisa meluas jika tidak segera dihentikan melalui jalur diplomasi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook