Pemilihan kepala daerah di Afrika Selatan (Afsel) yang digelar Rabu (waktu setempat) menjadi ajang pembuktian bagi partai berkuasa, African National Congress (ANC). Pasalnya, survei terbaru memprediksi dukungan terhadap ANC bisa anjlok di bawah 40 persen. Ini menjadi pukulan telak bagi partai yang telah mendominasi politik Afsel sejak berakhirnya apartheid pada 1994.
Kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah daerah menjadi biang keladi utama. Kegagalan dalam menyediakan layanan dasar seperti air bersih dan listrik membuat kepercayaan rakyat tergerus. Presiden Cyril Ramaphosa dalam surat kabar mingguannya mengakui bahwa kegagalan pemerintah kota telah menurunkan kepercayaan publik terhadap demokrasi. Ia pun dijadwalkan mencoblos di Johannesburg, kota terbesar yang menjadi rebutan utama dalam pemilu kali ini.
Persaingan di Johannesburg dan Durban semakin sengit. Di Johannesburg, mantan pemimpin oposisi Helen Zille dari Partai Democratic Alliance (DA) ikut bertarung memperebutkan kursi wali kota, dengan survei menempatkannya di posisi 36 persen. Sementara itu, partai baru bentukan mantan Presiden Jacob Zuma, uMkhonto weSizwe (MK), diprediksi bakal memberikan kejutan besar di Durban. Isu anti-imigran juga mewarnai kampanye di kota pelabuhan tersebut.
Komisi Pemilihan Umum Afsel mencatat rekor 29,2 juta pemilih terdaftar di lebih dari 23.000 TPS. Namun, tantangan terbesar adalah partisipasi pemilih yang diprediksi rendah, mengingat pada pemilu 2021 lalu hanya 46 persen pemilih yang menggunakan hak suaranya. Hasil akhir diperkirakan baru akan diketahui pada Minggu mendatang, dan akan menjadi penentu arah masa depan ANC menjelang kongres partai di tahun 2027.