Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali bikin geger. Ia baru saja memamerkan puluhan peluncur roket berkemampuan nuklir yang diklaimnya 'luar biasa' dan 'menarik' di hadapan publik. Senjata berkaliber 600mm ini, kata Kim, dilengkapi teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem panduan canggih yang membuatnya 'paling unggul di dunia untuk serangan super-kuat terpusat'.
Aksi unjuk kekuatan militer ini berlangsung di tengah persiapan Kongres Partai Buruh ke-9 yang akan segera digelar, sebuah acara politik paling krusial di Korea Utara yang diadakan setiap lima tahun. Kongres tersebut diperkirakan akan menjadi panggung bagi Kim Jong Un untuk mengumumkan arah kebijakan luar negeri, rencana perang, dan ambisi nuklir Korea Utara untuk lima tahun mendatang. Ini juga menjadi ajang penguatan narasi 'inisiatif pertahanan mandiri' dan percepatan modernisasi militer.
Para analis militer, termasuk Hong Min dari Korea Institute for National Unification, menyebutkan bahwa peluncur roket ini memiliki jangkauan hingga 400 kilometer. Itu artinya, seluruh wilayah Korea Selatan bisa menjadi target. Tujuan utamanya jelas: melumpuhkan kekuatan udara gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Bayangkan, jika dilengkapi hulu ledak nuklir taktis, satu baterai peluncur saja bisa meluluhlantakkan seluruh pangkalan udara. Ancaman ini menjadi makin nyata mengingat ibu kota Korea Selatan, Seoul, hanya berjarak kurang dari 50 kilometer dari perbatasan Korea Utara.
Tentunya, langkah agresif ini memicu kewaspadaan tinggi dari militer Korea Selatan yang terus memantau ketat aktivitas pengembangan senjata di negara tetangganya itu. Pameran senjata nuklir ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan juga sinyal tegas dari Pyongyang kepada dunia, khususnya Amerika Serikat, bahwa program nuklir mereka terus berlanjut. Ini juga menjadi upaya Kim Jong Un untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan legitimasinya di mata rakyatnya, di tengah hubungan kedua Korea yang praktis terhenti sejak 2019.