Denmark bersiap menggelar pemilihan umum parlemen pada 24 Maret mendatang. Pengumuman ini datang langsung dari kantor Perdana Menteri Mette Frederiksen, menandai dimulainya persaingan politik sengit di negeri Skandinavia tersebut. Langkah PM Frederiksen ini disebut-sebut sebagai upaya strategis untuk mengukuhkan kekuasaannya, memanfaatkan gelombang dukungan publik yang meningkat drastis berkat sikap tegasnya menolak niat kontroversial mantan Presiden AS Donald Trump untuk membeli Greenland.
Pemilu ini akan menentukan 179 kursi di Folketing, atau parlemen nasional Denmark, untuk masa jabatan empat tahun ke depan. Sebanyak 175 kursi dialokasikan untuk perwakilan dari Denmark sendiri, sementara masing-masing dua kursi menjadi jatah politikus dari Greenland dan Kepulauan Faroe, yang berstatus semi-otonom di bawah Kerajaan Denmark. Undang-undang Denmark mewajibkan pemilu diselenggarakan setidaknya setiap empat tahun, namun perdana menteri punya kewenangan untuk memajukan jadwal kapan saja.
Saat ini, Frederiksen, yang merupakan seorang Sosial Demokrat berhaluan kiri-tengah, memimpin Denmark sejak pertengahan 2019. Pemerintahannya merupakan koalisi tiga partai yang unik, menyatukan Sosial Demokrat dengan Partai Liberal yang dipimpin Menteri Pertahanan Troels Lund Poulsen, serta partai Moderat pimpinan Menteri Luar Negeri Lars Lokke Rasmussen, yang juga mantan perdana menteri.
Isu Greenland menjadi kartu truf utama bagi Frederiksen. Dalam beberapa bulan terakhir, ia aktif menggalang dukungan dari para pemimpin Eropa untuk menentang 'ancaman' Trump terkait wilayah Artik yang strategis itu. Hasilnya, jajak pendapat menunjukkan popularitasnya meroket, berhasil mengikis ketidakpuasan publik atas kenaikan biaya hidup dan tekanan pada layanan kesejahteraan sosial. Penolakan keras Denmark terhadap upaya AS untuk mengambil alih Greenland dengan dalih 'keamanan nasional' ini telah mengubah pandangan publik terhadap Frederiksen, dari semula tertekan isu domestik menjadi sosok pemimpin yang berani membela kedaulatan.
Dengan memajukan jadwal pemilu, Frederiksen berharap dapat memperkuat mandatnya dan memastikan stabilitas pemerintahannya di tengah tantangan global dan domestik. Kemenangan akan membuktikan bahwa isu kedaulatan dan identitas nasional, terutama terkait Greenland, lebih ampuh menarik simpati pemilih dibandingkan isu ekonomi sehari-hari. Pemilu ini akan menjadi barometer penting bagi arah politik Denmark selanjutnya, baik di panggung nasional maupun internasional.