Jakarta - Belanda resmi menarik diri dari ajang Eurovision Song Contest 2027. Keputusan ini diumumkan langsung oleh penyiar publik NPO, menyusul gelombang protes terkait partisipasi Israel dalam kompetisi musik terbesar dunia tersebut.
Direktur Media NPO, Jurre Bosman, menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah melalui diskusi panjang dengan dewan penyiar. Menurutnya, keikutsertaan Israel telah memicu reaksi keras di masyarakat dan menimbulkan perpecahan. "Kami memilih mundur untuk sementara waktu karena sensitivitas tema yang sedang berkembang," ujarnya.
Langkah ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari sikap broadcaster AVROTROS yang lebih dulu menyatakan boikot pada Agustus lalu. AVROTROS menilai Eurovision sudah tidak lagi netral. Meski sempat berencana mengambil alih tanggung jawab, NPO akhirnya membatalkan niat tersebut dan memilih mundur total.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sebelumnya, Islandia, Spanyol, Irlandia, dan Slovenia juga telah menarik diri dari edisi 2026. Irlandia bahkan memastikan absen untuk kedua kalinya di tahun depan. Sementara itu, Republik Ceko mundur dengan alasan pemotongan anggaran, bukan politik.
Meski begitu, Eurovision 2027 tetap akan digelar. Bulgaria didapuk sebagai tuan rumah untuk pertama kalinya di kota Burgas, setelah penyanyi mereka, Dara, menang di Wina, Austria, dengan lagu 'Bangaranga'. NPO memastikan masyarakat Belanda masih bisa menonton ajang tersebut melalui saluran publik, meski negaranya tidak mengirimkan wakil.
Analisis Dampak: Mundurnya Belanda menambah daftar panjang negara yang memisahkan diri dari Eurovision karena alasan geopolitik. Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menunjukkan bahwa even hiburan sekelas Eurovision tidak bisa lepas dari tekanan politik global. Boikot ini juga berpotensi mengurangi keragaman budaya dalam kompetisi, meski di sisi lain menjadi bentuk solidaritas terhadap isu kemanusiaan yang berkembang di Eropa.