Rusia melancarkan serangkaian serangan dahsyat ke Ukraina, melibatkan rudal balistik Iskander-M dan puluhan drone, menyebabkan korban jiwa serta kerusakan parah di berbagai wilayah. Sedikitnya delapan warga sipil tewas dalam insiden terpisah, termasuk serangan brutal terhadap kereta penumpang yang dikecam keras sebagai 'terorisme' oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy.
Dua orang dilaporkan tewas di komunitas Bilohorodska, wilayah Kyiv, akibat serangan udara Rusia. Sementara itu, serangan drone di wilayah Dnipropetrovsk di Ukraina tengah menewaskan satu orang lainnya. Yang paling mengejutkan adalah serangan drone pada kereta komuter di Kharkiv timur laut, yang mengakibatkan lima penumpang meninggal dunia. Kereta nahas tersebut diketahui membawa sekitar 100 penumpang, memicu ketakutan mendalam di kalangan warga Ukraina mengingat kereta adalah sarana transportasi utama setelah wilayah udara ditutup.
Tak hanya itu, di Odesa selatan, tiga orang juga terluka akibat serangan drone Rusia yang menyasar infrastruktur pelabuhan. Ibu kota Kyiv tidak luput; sebuah gedung apartemen 17 lantai rusak ringan di bagian atap dan jendela lantai atas. Beberapa bangunan residensial di Kyiv bahkan masih mengalami pemadaman listrik akibat serangan sebelumnya terhadap jaringan energi Ukraina di tengah suhu dingin musim dingin.
Angkatan Udara Ukraina mengonfirmasi bahwa Rusia menggunakan satu rudal balistik Iskander-M dan 146 drone dalam serangan semalam, dengan 103 di antaranya berhasil dinetralisir oleh sistem pertahanan udara.
Presiden Zelenskyy menyatakan serangan terhadap kereta sipil ini akan dipandang sebagai terorisme di negara manapun. Ia menyoroti peningkatan signifikan kemampuan Rusia untuk meneror dan membunuh, serta mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar menghentikan ofensif mematikan ini di tengah negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Serangan-serangan mematikan ini, yang juga menyebabkan banyak warga Ukraina tanpa listrik di tengah suhu dingin, terjadi tak lama setelah negosiator Rusia dan Ukraina bertemu di Uni Emirat Arab pekan lalu dalam pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Putaran selanjutnya diperkirakan pada 1 Februari. Ukraina sendiri meminta jaminan keamanan yang kuat dari para mitranya, khususnya AS, sebagai bagian dari kesepakatan damai untuk mencegah serangan di masa depan. Namun, sumber Reuters mengungkapkan bahwa Washington telah menyampaikan kepada Ukraina bahwa mereka harus menandatangani kesepakatan damai dengan Rusia demi mendapatkan jaminan keamanan dari AS.