MISTERI AMELIA EARHART DIBURU LAGI DI LAUT PASIFIK - Berita Dunia
← Kembali

MISTERI AMELIA EARHART DIBURU LAGI DI LAUT PASIFIK

Foto Berita

Pencarian bangkai pesawat legendaris Amelia Earhart akhirnya kembali dilanjutkan di Pulau Nikumaroro, Kiribati, setelah tim peneliti tertahan cuaca buruk selama tiga hari. Tim ekspedisi yang dipimpin oleh Purdue University dan Archaeological Legacy Institute (ALI) ini sedang memburu objek misterius bernama 'Taraia Object' yang terlihat di citra satelit di laguna pulau tersebut.

Sirisha Bandla, spesialis teknologi dalam tim itu, mengungkapkan bahwa kru sangat antusias setelah cuaca membaik pada Minggu. 'Kami akhirnya bisa turun dari kapal dan mendarat di Nikumaroro,' ujarnya dalam video pembaruan dari dek kapal Marin Mainiku. Sebelumnya, gelombang tinggi dan angin kencang akibat fenomena El Nino memaksa mereka bertahan di kapal selama tiga hari.

Earhart, pelopor penerbangan Amerika, hilang tanpa jejak pada 1937 saat mencoba terbang keliling dunia bersama navigatornya, Fred Noonan. Pesawat twin-engine Lockheed Electra mereka lenyap saat berusaha mencapai Pulau Howland untuk mengisi bahan bakar. Salah satu teori kuat menyebut Earhart sebenarnya mendarat darurat di Nikumaroro dan meninggal sebagai orang terdampar.

Objek Taraia yang terlihat di foto sejak 1938 itu diduga kuat sebagai reruntuhan pesawat kecil di perairan dangkal. Meski demikian, sejumlah peneliti lain masih skeptis dan meragukan objek tersebut. Ekspedisi ini juga mendapat perhatian dari Museum Angkatan Udara Selandia Baru yang merilis foto pengintaian lama Nikumaroro, meski objek Taraia tidak terlihat jelas di sana.

Analisis Dampak: Ekspedisi ini menjadi harapan baru bagi masyarakat global untuk memecahkan salah satu misteri aviasi terbesar abad ke-20. Bagi warga Kiribati, aktivitas ini bisa mendorong perhatian internasional terhadap potensi wisata sejarah di wilayah terpencil mereka. Namun, risiko navigasi di sekitar atol—seperti yang menenggelamkan kapal SS Norwich City pada 1929—tetap menjadi peringatan serius bagi keselamatan tim peneliti.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook