Jakarta, CNN Indonesia — Situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memanas. Pasukan Iran mengonfirmasi bahwa sedikitnya lima kapal tanker minyak dan satu kapal tunda (tugboat) mengalami kebakaran hebat dalam serangkaian insiden terpisah. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang belum menemui titik terang.
Menurut laporan Kantor Berita Fars yang dikutip dari pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC), insiden bermula ketika sebuah tanker minyak besar mencoba melintas di jalur selatan Selat Hormuz. Kapal tersebut diduga kuat menabrak ranjau laut dan langsung terbakar hingga tak bisa melanjutkan perjalanan. Tak lama berselang, sebuah supertanker lain juga dilaporkan terbakar saat keluar dari perairan tersebut. Nahas, kapal tunda yang berusaha membantu memadamkan api justru ikut terbakar.
Angkatan Darat Iran melalui kantor berita IRNA menambahkan bahwa tiga tanker lainnya menjadi korban ledakan ranjau laut di area yang dianggap tidak aman di sebelah timur Selat Hormuz. Sementara itu, otoritas maritim Inggris (UKMTO) melaporkan insiden terpisah di lepas pantai Qatar, di mana sebuah tanker terkena dua proyektil sekitar 50 mil laut di utara Madinat ash-Shamal. Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Dampak Bagi Masyarakat dan Ekonomi Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital karena menjadi urat nadi bagi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi besar memicu lonjakan harga minyak mentah global, yang ujung-ujungnya akan berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya logistik di Indonesia. Selain itu, tingginya risiko keamanan membuat para pemilik kapal enggan melaporkan insiden, sehingga data resmi mengenai serangan seringkali tidak akurat. Masyarakat diminta bersiap menghadapi potensi gejolak ekonomi akibat ketidakstabilan pasokan energi dari Timur Tengah ini.