Jakarta, Senin, 16 Juni 2025 - Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan kebijakan kontroversial di bidang teknologi. Kali ini, mereka secara resmi melarang warga negara asing, termasuk karyawan asing dari perusahaan pengembangnya, untuk mengakses model kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru milik perusahaan rintisan Anthropic, yaitu Claude Fable 5 dan Mythos 5.
Kebijakan ini dikeluarkan kurang dari sepekan setelah Anthropic meluncurkan kedua model AI tersebut. Alasan yang dikemukakan Washington adalah masalah keamanan nasional. Langkah ini menjadi babak baru dalam penerapan kontrol ekspor teknologi canggih oleh AS, yang selama ini kerap menyasar China.
Menurut pernyataan resmi Anthropic, pemerintah AS mengeluarkan perintah kontrol ekspor sepihak yang melarang akses oleh warga asing di mana pun mereka berada, baik di dalam maupun di luar negeri. Ironisnya, larangan ini juga berlaku bagi karyawan asing yang bekerja langsung di Anthropic.
Analisis Dampak dan Konteks Lebih Luas:
Kebijakan ini memicu ketegangan baru antara Anthropic dan Gedung Putih. Pasalnya, Anthropic saat ini tengah menggugat pemerintah AS karena perusahaan tersebut dimasukkan ke dalam daftar hitam rantai pasok (blacklist). Sengketa ini bermula dari penolakan Anthropic untuk mengizinkan militer AS menggunakan model AI mereka untuk sistem pengintaian domestik dan senjata otonom penuh.
Media AS, Semafor, melaporkan bahwa perintah larangan ini dikeluarkan sebagian karena adanya kecurigaan bahwa sebuah kelompok yang terkait dengan China telah mengakses model AI baru milik Anthropic. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa penasihat Trump, David Sacks, mengungkapkan pemerintah mendapat peringatan bahwa model Fable 5 berpotensi di-jailbreak atau diretas. Namun, Anthropic membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menyebut bukti yang diberikan pemerintah hanya bersifat lisan dan menganggap temuan potensi jailbreak yang sempit tidak cukup kuat untuk menarik model yang sudah digunakan ratusan juta orang.
Di sisi lain, pihak Pentagon mendukung penuh langkah ini. Kepala Informasi Pertahanan AS, Kirsten Davies, menegaskan bahwa keamanan nasional jauh lebih penting dibandingkan keuntungan bisnis semata.
Kebijakan ini menjadi ironi di tengah upaya global untuk mengembangkan AI. China, sebagai pesaing utama AS, justru telah membuat lompatan besar dengan biaya yang jauh lebih murah melalui perusahaan seperti DeepSeek. Langkah AS ini dinilai bisa memperlambat inovasi dan memicu fragmentasi ekosistem AI global, di mana akses terhadap teknologi terbaik menjadi terbatas dan hanya dikuasai oleh segelintir negara.