Perang antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) telah menghancurkan hampir seluruh infrastruktur di Khartoum. Meski pemerintah telah mendeklarasikan kota itu bebas dari RSF pada Agustus 2025, kenyataan di lapangan masih jauh dari kata pulih bagi warga yang kembali.
Kisah pilu datang dari Mohamed Mahdi Makki Farah (51), seorang pedagang yang mengungsi ke el-Fasher pada Juni 2023. Saat kembali ke rumahnya di Jabal Awliya, ia mendapati bangunan ludes, bahkan peralatan rumah tangga pun raib dicuri. Kini, ia dan keluarganya terpaksa tidur di lantai atau menyewa rumah karena tidak sanggup membiayai renovasi yang mahal.
Bukan hanya tempat tinggal yang hilang, modal dagangnya pun menyusut drastis hingga sepertiga akibat depresiasi pound Sudan. Beban hidup semakin berat karena harus menanggung biaya medis anak dan kebutuhan sehari-hari, sementara akses air bersih, listrik, dan layanan kesehatan masih sangat minim. Dokumen-dokumen penting juga hilang, memaksa mereka mengurus ulang dari nol.
Data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat sekitar 5,27 juta pengungsi Sudan telah kembali ke rumahnya di sembilan negara bagian hingga akhir September. Namun, UNHCR memperingatkan bahwa kepulangan bukan berarti kehidupan telah pulih. Banyak rumah masih rusak dan lapangan kerja sangat sulit, menciptakan tantangan baru bagi jutaan keluarga yang mencoba bangkit dari keterpurukan.