Kasus kematian pengkritik Kremlin, Alexey Navalny, kembali memanas setelah lima negara Eropa menuding Rusia menggunakan racun katak panah untuk menyingkirkannya. Tuduhan serius ini langsung dibantah keras oleh Moskow, yang menyebutnya bias dan tak berdasar. Navalny, yang merupakan lawan politik terkuat Presiden Vladimir Putin selama bertahun-tahun, meninggal pada 16 Februari 2024 di sebuah koloni penjara Arktik saat menjalani hukuman 19 tahun atas tuduhan "ekstremisme" — tuduhan yang ia dan pendukungnya klaim sebagai bentuk hukuman atas kerja oposisinya.
Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia mengeluarkan pernyataan bersama pada Sabtu lalu. Mereka yakin Navalny diracun dengan epibatidine, sebuah toksin yang ditemukan pada katak panah beracun dan juga bisa diproduksi di laboratorium. Kelima negara tersebut menegaskan, negara Rusia memiliki "sarana, motif, dan kesempatan" untuk melakukan tindakan itu. Namun, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, langsung menepis tuduhan tersebut dalam jumpa pers Senin. "Kami secara alami tidak menerima tuduhan seperti itu. Kami tidak setuju dengan mereka. Kami menganggapnya bias dan tidak berdasar," tegas Peskov, yang kemudian menambahkan, "Faktanya, kami menolaknya dengan sangat keras."
Bantahan Kremlin ini muncul bertepatan dengan peringatan setahun kematian Navalny, di mana puluhan pendukungnya dan beberapa diplomat asing mengunjungi makamnya di Moskow. Kasus peracunan Navalny bukanlah hal baru; ia pernah selamat dari dugaan peracunan dengan agen saraf Novichok pada tahun 2020. Epibatidine sendiri bekerja mirip agen saraf, menyebabkan sesak napas, kejang, detak jantung melambat, dan akhirnya kematian. Pola ini kian memperkuat dugaan adanya upaya sistematis untuk membungkam setiap suara oposisi di Rusia.
Perkembangan terbaru ini tentu berpotensi makin memperuncing ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat. Ini juga menjadi sorotan tajam terhadap kondisi oposisi di Rusia. Setelah kematian Navalny, kelompok oposisi di sana masih terpecah belah dan banyak pemimpinnya harus hidup di pengasingan. Upaya janda Navalny, Yulia Navalnaya, untuk mengambil alih tongkat estafet oposisi pun masih berjuang keras menggalang dukungan luas. Insiden ini, dengan tuduhan racun katak panah, bukan hanya sekadar berita kematian biasa, melainkan potret kerasnya pertarungan kekuasaan di Rusia dan dampaknya pada peta geopolitik global.