Jakarta, Media Online – Iran dan Amerika Serikat akhirnya mencapai kesepakatan awal yang akan mengubah peta geopolitik kawasan Teluk. Kesepakatan yang ditandatangani di Swiss ini tidak hanya membahas program nuklir Teheran, tetapi juga secara langsung menyentuh jalur pelayaran paling vital di dunia: Selat Hormuz.
Berdasarkan nota kesepahaman (MoU) yang akan diteken, Selat Hormuz akan kembali normal dalam waktu 30 hari. Ini adalah angin segar bagi pasar minyak global yang selama berbulan-bulan dilanda ketidakpastian akibat ancaman blokade dari Iran. Yang menarik, Iran bersikeras bahwa pengelolaan lalu lintas di selat tersebut akan dilakukan sepenuhnya oleh Iran dan Oman, tanpa campur tangan pihak asing.
Dalam MoU ini, kedua pihak sepakat untuk merundingkan kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Sebagai imbalan, AS akan melonggarkan sanksi, meski tidak mencabutnya sepenuhnya. Seorang pejabat senior AS juga mengungkapkan bahwa perjanjian ini menetapkan batas baru untuk pengenceran stok uranium Iran yang diperkaya tinggi, serta mencakup langkah-langkah untuk menjaga integritas wilayah Lebanon.
Yang menjadi sorotan adalah wacana penandatanganan langsung oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Donald Trump. Meski sebelumnya disebut akan diwakili oleh Wakil Presiden AS JD Vance, kini opsi pertemuan puncak kedua pemimpin negara tengah dipertimbangkan.
Analisis: Kesepakatan ini menjadi 'rem darurat' bagi potensi konflik besar di Timur Tengah. Dengan dibukanya Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan akan stabil dan rantai pasok energi global kembali lancar. Namun, publik tetap perlu waspada. Ini baru kesepakatan awal. Batas waktu 60 hari untuk negosiasi final sangat singkat, dan sejarah menunjukkan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran bisa batal di menit-menit terakhir. Selain itu, klaim Iran yang ingin mengelola Selat Hormuz sendiri patut dicermati, karena bisa menjadi bibit ketegangan baru di kemudian hari.