Pemerintah El Salvador di bawah komando Presiden Nayib Bukele resmi mengerahkan kekuatan militernya ke Haiti. Langkah ini diambil setelah empat teknisi penerbangan asal El Salvador dilaporkan hilang usai diserang kelompok geng bersenjata pada 18 Oktober lalu.
Dalam operasi pencarian tersebut, Kepolisian Nasional Haiti bersama Pasukan Penindasan Geng (GSF) bentukan PBB dan tentara El Salvador menemukan sisa-sisa kendaraan bak terbuka yang hangus terbakar di kawasan Santo, Croix-des-Bouquets, pinggiran Port-au-Prince. Namun, keberadaan keempat teknisi tersebut masih misterius hingga saat ini.
Presiden Bukele, yang dikenal dengan kebijakan keamanan garis kerasnya, membagikan video di media sosial X yang memperlihatkan tentara bersenjata lengkap berpatroli dan disambut warga lokal. Ia bahkan menantang para geng dengan menulis, "Kumpulkan geng-gengmu agar kami bisa berperang melawan mereka."
Selain mengerahkan 2.000 personel, Bukele juga mengunggah rekaman helikopter militer El Salvador yang melepaskan tembakan ke arah geng yang menyerang pasukan GSF dari Chad. Meski begitu, kehadiran pasukan asing ini memicu kekhawatiran soal payung hukum penggunaan kekuatan. Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menegaskan bahwa operasi keamanan harus tetap berjalan dalam kerangka hukum HAM internasional.
Di sisi lain, Perdana Menteri Haiti Alix Didier Fils-Aime memastikan bahwa pasukan internasional tersebut bertindak di bawah otoritas Haiti untuk memperkuat kapasitas negara, bukan untuk menggantikan kedaulatan lokal. Sementara itu, pemimpin geng 400 Mawozo, Wilson Joseph, dikabarkan telah mengirim surat kepada Sekjen PBB untuk meminta dialog.