ROMA - Parlemen Italia resmi mengesahkan perubahan besar pada sistem pemilihan umum (pemilu) negara itu pada Kamis (13/11) waktu setempat. Kebijakan yang didorong oleh Perdana Menteri Giorgia Meloni ini disetujui dengan perolehan suara 227 banding 164.
Perubahan ini memindahkan Italia dari sistem hibrida (campuran) ke sistem proporsional penuh. Meloni berargumen bahwa sistem baru ini akan menciptakan pemenang yang lebih jelas dan pemerintahan yang lebih stabil, menghindari koalisi yang rapuh seperti yang sering terjadi di masa lalu.
Namun, langkah ini menuai protes keras dari partai oposisi. Mereka menuduh koalisi sayap kanan Meloni sengaja merancang aturan ini demi mempertahankan kekuasaan. Dalam debat panas sebelum voting, oposisi menuduh pemerintah mengabaikan prinsip demokrasi. Meloni sebelumnya bahkan mengancam akan mundur dan memicu pemilu dini jika proposal ini ditolak, menjadikan voting rahasia ini sebagai ujian otoritasnya.
Aturan baru ini memberikan 'bonus' kursi signifikan. Koalisi yang menang dengan suara di atas 42% akan mendapatkan tambahan 105 kursi di parlemen. Ini sangat menguntungkan koalisi Meloni yang diprediksi kuat, karena bisa mengubah kemenangan tipis menjadi mayoritas mutlak. Oposisi dari Partai Demokrat (PD) menegaskan mereka akan tetap menang dalam sistem apa pun, namun mereka menyesalkan cara pemerintah memaksakan aturan ini.