Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah menimbang opsi kontroversial: meminta negara-negara Arab untuk membiayai operasi militer AS-Israel di Iran. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Senin lalu, mengisyaratkan bahwa ide ini sangat menarik bagi Trump dan kemungkinan akan dibahas lebih lanjut olehnya.
Wacana ini mengingatkan pada Perang Teluk 1990, di mana sekutu AS turut membantu pendanaan intervensi Washington. Tak hanya itu, Trump juga mengisyaratkan akan puas jika perang diakhiri, bahkan tanpa pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia berpandangan, "mitra lain" yang sangat bergantung pada ekspor minyak melalui jalur vital ini — yang ditutup Iran tak lama setelah perang dimulai akhir Februari lalu — seharusnya bertanggung jawab mengelola krisis tersebut. Penutupan Hormuz telah membuat harga minyak mentah Brent melonjak drastis, dari sekitar $65 menjadi $116 per barel pekan ini, memicu kekhawatiran pasokan global, meskipun AS sendiri relatif mandiri dalam sumber daya ini.
Di sisi lain, Iran tegas menyatakan bahwa AS harus membayar reparasi kepada korban perang sebagai syarat gencatan senjata. Hingga kini, belum ada sinyal positif dari pemerintah negara-negara Timur Tengah, khususnya anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), mengenai kesediaan mereka untuk mendanai perang yang diperkirakan menelan biaya puluhan miliar dolar ini. Para ahli mencatat, tidak seperti Perang Teluk 1990-1991, negara-negara GCC dan Arab lain kali ini tidak meminta AS untuk campur tangan di Iran sebelum serangan 28 Februari lalu dimulai.
Zeidon Alkinani, Direktur Pendiri Arab Perspectives Institute, menegaskan bahwa negara-negara Arab justru menyerukan diplomasi dan de-eskalasi. Menurutnya, pihak yang paling pantas menanggung biaya perang justru adalah Israel. Alkinani beralasan, pemerintah Israel adalah pihak yang meyakinkan dan mendorong Amerika Serikat untuk terlibat dalam perang ini. Jika AS bersikeras agar negara-negara Arab mendanai perang di Iran, ini bukan kali pertama Washington mencoba, dan seringkali berhasil, membuat negara lain membayar perang yang mereka mulai atau terlibat aktif di dalamnya.
Analisis ini menunjukkan bahwa permintaan Trump bisa memicu ketegangan diplomatik dan beban ekonomi signifikan bagi negara-negara Arab, yang sebagian besar justru menginginkan perdamaian. Ini juga menyoroti kompleksitas geopolitik di kawasan, di mana kepentingan berbagai pihak saling bertabrakan, dan AS mencoba menggeser beban konflik ke pihak lain. Dampak langsung bagi masyarakat global adalah volatilitas harga energi dan ketidakpastian stabilitas regional.