Ketidakpuasan di kalangan konservatif Amerika Serikat kian membara menjelang pemilu sela. Avery Milton, seorang pemilih muda asal Carolina Selatan, mengaku kecewa berat dengan Presiden Donald Trump. Meski tiga kali memberikan suara untuk Trump, Milton merasa dikhianati, terutama setelah Amerika terlibat konflik dengan Iran—kebijakan yang dinilai melenceng dari janji kampanye anti-perang.
Kekecewaan ini memicu gerakan akar rumput untuk mendukung Representative Ralph Norman sebagai kandidat tulis (write-in) untuk Senat, alih-alih mendukung Senator Darline Graham yang mendapat restu Trump. Langkah ini menjadi bentuk protes terbuka terhadap keputusan presiden yang dianggap terlalu cepat mendukung Graham, adik mendiang Senator Lindsey Graham, setelah penunjukan kontroversialnya.
Meski kandidat tulis jarang menang, sejarah mencatat keberhasilan serupa pada 2010. Situasi ini memberi peluang bagi kandidat Demokrat, Annie Andrews, di negara bagian yang sudah lama tidak memilih Demokrat ke Senat. Perpecahan di kubu Republik ini menjadi sinyal bahaya bagi Trump menjelang pemilu sela.