Gelombang demonstrasi kembali mengguncang Prancis selama empat akhir pekan berturut-turut. Pada Sabtu lalu, sekitar 146.000 orang turun ke jalan menurut Kementerian Dalam Negeri, sementara serikat pekerja mengklaim angka mencapai 250.000. Aksi ini dipicu oleh kenaikan biaya hidup yang semakin mencekik, dengan Paris menjadi pusat kerusuhan yang menegangkan.
Pemerintah tidak main-main. Sebanyak 70.000 personel keamanan dikerahkan, dan Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menegaskan aparat 'siap dan menunggu' para perusuh. Di ibu kota, bentrokan pecah meski jumlah peserta menurun. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan mengayunkan tongkat untuk membubarkan massa setelah sekelompok orang menyerang petugas yang sedang menangkap seorang pembakar tong sampah. Aksi serupa juga terjadi di Lyon, di mana gas air mata digunakan untuk membubarkan ratusan orang yang memblokir jalan.
Menariknya, gerakan yang awalnya dimulai oleh pelajar ini kini telah meluas. Pekerja dari berbagai sektor, termasuk kereta api, turun ke jalan untuk mendukung generasi muda dan menuntut upah yang lebih layak. Situasi ini menjadi sorotan menjelang pemilihan presiden April mendatang, di mana survei menunjukkan kandidat sayap kanan Marine Le Pen dan sayap kiri Jean-Luc Melenchon memimpin. Analisis dampak: Ketidakstabilan ini tidak hanya mengganggu keamanan publik dan aktivitas ekonomi harian di kota-kota besar, tetapi juga menjadi ujian kredibilitas pemerintah dalam menangani krisis sosial-ekonomi yang semakin dalam.