JAKARTA - Gelombang demonstrasi besar-besaran yang digerakkan oleh generasi muda, atau yang sering disebut sebagai 'Gen Z protests', kini meluas dari Prancis hingga India. Aksi turun ke jalan ini bukan tanpa alasan; mereka memprotes ketimpangan ekonomi yang semakin melebar, layanan publik yang dinilai gagal, serta masa depan yang suram.
Di Prancis, protes dipicu oleh kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan akibat kurangnya dana. Aksi ini terus membesar hingga melibatkan ratusan ribu orang di seluruh negeri. Sementara itu, di India, gerakan 'Cockroach' menjadi tantangan serius bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi, terutama setelah isu penghapusan 130 juta nama dari daftar pemilih dan penangkapan pemimpin gerakan tersebut.
Masalah serupa juga membara di Spanyol. Rakyat murka terhadap sistem perumahan yang rusak dan undang-undang yang gagal melindungi warga dari penggusuran. Kasus penggusuran paksa terhadap Maricarmen Abascal, seorang nenek berusia 87 tahun yang meninggal dua minggu setelahnya, menjadi pemicu amarah publik. Parlemen yang menolak undang-undang perlindungan penggusuran membuat Perdana Menteri Pedro Sanchez harus menyerukan pemilu kilat.
Analisis singkat: Meski konteks di setiap negara berbeda, akar dari gelombang protes ini adalah ketimpangan kelas dan generasi. Sejak krisis 2008, ketimpangan di Eropa meningkat tajam. Kebijakan penghematan (austerity) telah menggerus kemampuan negara dalam menyediakan layanan publik berkualitas seperti pendidikan dan kesehatan. Generasi muda merasakan dampak paling pahit: prospek masa depan yang lebih buruk dari orang tua mereka, ditambah dengan penurunan kemampuan literasi dan matematika akibat masalah kesehatan mental serta distrupsi AI. Fenomena ini menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas sosial global jika tidak segera diatasi.