Bogota, Kolombia – Kisah pilu menyelimuti keluarga Alejandro Carranza, seorang nelayan berusia 42 tahun dari Kolombia. Sejak 14 September lalu, bapak empat anak ini tak pernah kembali ke rumah setelah melaut mencari tuna dan marlin di perairan La Guajira, provinsi paling utara Kolombia, yang berbatasan dengan Venezuela. Apa yang terjadi padanya hingga kini masih menjadi misteri.
Kecurigaan keluarga muncul sehari setelah keberangkatan Carranza. Kala itu, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah melancarkan serangan militer kedua terhadap sebuah kapal yang diduga mengangkut narkoba di Laut Karibia. Sahabat masa kecil Carranza, Leonardo Vega, yang juga presiden asosiasi nelayan setempat, langsung diliputi firasat buruk.
“Ketika saya dengar Alejandro tidak kembali, pikiran pertama saya adalah dia mungkin terjebak dalam pengeboman itu,” tutur Vega kepada Al Jazeera.
Sejak September, AS memang gencar melancarkan puluhan serangan serupa di Laut Karibia dan Pasifik Timur. Operasi militer ini setidaknya telah menewaskan 115 orang dan melukai dua lainnya. Presiden AS Donald Trump menuduh para korban sebagai 'narco-teroris' yang mengedarkan narkoba ilegal ke Amerika Utara, pemicu krisis overdosis mematikan di sana.
Namun, klaim AS ini dipertanyakan. Keluarga Carranza menolak keras tudingan bahwa Alejandro adalah penyelundup narkoba. Mereka menggambarkan Carranza sebagai nelayan sejati, ayah yang mencintai keluarganya, dan tokoh penting di komunitas nelayan Santa Marta, kota pesisir tempat tinggalnya.
Kini, keluarga Carranza tak tinggal diam. Mereka mencari keadilan melalui Inter-American Commission on Human Rights (IACHR), sebuah badan regional yang menginvestigasi pelanggaran hak asasi. Petisi yang diajukan pada 2 Desember lalu ini menjadi tantangan hukum internasional besar pertama terhadap pemerintahan Trump terkait kampanye serangan kapal tersebut.
“Mereka melanggar hak hidup Alejandro dengan membunuhnya secara semena-mena, tanpa proses pengadilan dan tanpa surat perintah,” tegas Dan Kovalik, pengacara AS yang mewakili keluarga Carranza.
Meski kritik terhadap operasi militer AS terus menguat, para ahli menilai perjuangan keluarga Carranza untuk meminta pertanggungjawaban AS akan menjadi pertempuran hukum dan politik yang sangat berat. “Ini pasti akan sulit,” kata Juan Pappier, wakil direktur Human Rights Watch untuk wilayah Amerika.
Sebelum melaut, Carranza sempat menghubungi putri sulungnya, Zaira. Ia mengatakan mungkin akan sulit dihubungi karena akan lama di laut. Suatu hal yang biasa bagi nelayan untuk berhari-hari mengejar ikan besar. “Zaira, saya akan melaut sekarang. Saya tidak akan bisa dihubungi,” kenang putrinya.
Sayangnya, baik keluarga maupun teman-teman tak pernah mendengar kabar dari Alejandro lagi. Hingga kini, AS belum merilis identitas korban tewas dalam serangan tersebut, juga belum mengonfirmasi atau menyangkal klaim yang dibuat oleh para kerabat.