Kenya kembali mencatat kasus infeksi virus Ebola kedua dalam waktu sekitar sepekan. Kementerian Kesehatan Kenya mengonfirmasi bahwa pasien terbaru adalah seorang pria berusia 39 tahun yang merupakan anggota keluarga dekat dari pasien pertama. Pria tersebut mulai menunjukkan gejala demam, kelelahan, dan nyeri sendi pada Selasa dan langsung diisolasi karena sebelumnya sudah dikarantina.
Kasus pertama melibatkan seorang warga Kenya yang tinggal di Republik Demokratik Kongo (DRC). Ia meninggal dua hari setelah tiba di Nairobi melalui penerbangan dari Uganda. Yang menjadi sorotan, pasien tersebut berhasil melintasi tiga negara tanpa terdeteksi, padahal perbatasan DRC–Uganda sudah ditutup sejak Mei akibat wabah Ebola. Pemerintah Uganda bahkan membantah terlibat dan menegaskan tidak memiliki kasus Ebola di wilayahnya.
Sejak kasus pertama muncul, Kenya memperketat respons nasional. Menteri Kesehatan Aden Duale menyebut sedikitnya 57 orang telah dilacak sebagai kontak erat, dengan 10 di antaranya langsung dikarantina. Direktur Jenderal Kesehatan Patrick Amoth menyatakan pihaknya akan menggelar pertemuan dengan DRC, Uganda, dan Africa CDC untuk menyelidiki celah pengawasan perbatasan.
Kenya menjadi negara keempat yang mencatat kasus terkait wabah Ebola di DRC, yang kini tercatat sebagai wabah terbesar kedua dalam sejarah global dengan lebih dari 9.000 kasus dan 4.000 kematian. Uganda sempat melaporkan 20 kasus dan dua kematian sebelum dinyatakan bebas Ebola pada Agustus lalu.
Dampak bagi Masyarakat: Bagi warga Kenya dan kawasan Afrika Timur, munculnya kasus kedua dalam satu keluarga memicu kekhawatiran penularan lokal (local transmission). Ini menandakan virus tidak lagi hanya masuk melalui pelancong, tetapi sudah menyebar di dalam negeri. Masyarakat perlu mewaspadai gejala awal seperti demam dan nyeri sendi, serta menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Pemerintah juga dituntut memperbaiki sistem skrining di bandara dan perbatasan darat yang selama ini dinilai lemah.