ANCAMAN AS HIMPIT KUBA: SEKUTU HANYA BICARA KOSONG? - Berita Dunia
← Kembali

ANCAMAN AS HIMPIT KUBA: SEKUTU HANYA BICARA KOSONG?

Foto Berita

Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan prediksi suram tentang masa depan Kuba, menyebut negara itu “sangat dekat dengan kehancuran.” Pernyataan ini bukan kali pertama dilontarkan Trump, mengingat AS memang telah berupaya “menghancurkan” Kuba sejak revolusi komunis 1959 yang menggulingkan diktator Fulgencio Batista. Namun, kali ini, ancaman tersebut terasa lebih berat setelah dugaan “penangkapan” Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS, yang menjadi dalih Trump bahwa Kuba tak lagi mendapat pasokan uang dan minyak penting dari Venezuela.

Faktanya, selama 67 tahun, Kuba telah menghadapi embargo ekonomi AS yang menghantam keras sendi-sendi kehidupannya. Dampaknya terasa nyata: kelangkaan kebutuhan pokok seperti kopi, susu, hingga obat-obatan dasar. Penulis artikel ini, seorang kolumnis Al Jazeera, bahkan menyaksikan langsung kondisi itu saat berkunjung ke Havana pada 2022. Ironisnya, di tengah himpitan ini, para “sekutu” Kuba, seperti Meksiko, dinilai hanya mampu memberikan janji dukungan tanpa aksi konkret. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum memang menyatakan “solidaritas” dan menegaskan keputusan pengiriman minyak adalah “kedaulatan negaranya,” namun di sisi lain, Meksiko dilaporkan menghentikan pengiriman minyak ke Havana karena tekanan AS.

Situasi ini memperlihatkan dilema geopolitik yang rumit. Venezuela selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kuba, terutama dalam pasokan minyak, yang kini terancam putus akibat tekanan AS. Hilangnya dukungan vital ini berpotensi memperparah krisis kemanusiaan dan ekonomi di Kuba, yang selama ini dikenal punya sistem kesehatan gratis yang mumpuni. Bagi masyarakat Kuba, tekanan AS dan sikap “main aman” para sekutu berarti kelangsungan hidup makin terancam, dengan akses terbatas terhadap kebutuhan dasar dan layanan kesehatan yang kian memburuk. Ini menjadi ujian nyata bagi solidaritas internasional dan pengingat pahit akan dampak jangka panjang dari kebijakan sanksi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook