Kota Taiz di Yaman kembali berada di ambang krisis kemanusiaan setelah milisi Houthi berhasil memutus jalur utama yang menghubungkan kota tersebut dengan wilayah pemerintahan. Situasi ini membangkitkan kembali memori kelam warga akan pengepungan total yang terjadi pada 2015-2016 silam.
Serangan terbaru dimulai pada awal September ketika Houthi melancarkan ofensif di sepanjang pesisir Laut Merah. Mereka tidak hanya menguasai pelabuhan strategis Mocha, tetapi juga merebut distrik Dhubab yang mengontrol Selat Bab al-Mandeb—jalur pelayaran vital bagi 12 persen perdagangan global. Puncaknya, pada 4 Oktober, Houthi merebut kota al-Turbah, memutus akses darat terakhir dari Taiz ke wilayah yang dikuasai pemerintah.
Warga seperti Iskandar Abdullah (37) mengaku trauma. Ia mengenang masa-masa sulit delapan tahun lalu ketika air bersih, makanan, dan obat-obatan langka. Saat itu, pasokan hanya masuk lewat jalur penyelundupan di pegunungan terjal menggunakan punggung keledai. Meski pemerintah yang didukung Arab Saudi sempat melancarkan serangan balik, Houthi terus menekan di pedesaan sekitar Taiz, memicu kekhawatiran pengepungan total akan segera terjadi lagi.