Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah memasuki minggu keempat dan nampaknya semakin memanas, bahkan di luar kendali Presiden Donald Trump. Teheran, meski kehilangan para pemimpin pentingnya, berhasil melancarkan serangan balasan ke Israel dan negara-negara Teluk.
Lebih lanjut, Iran kini menerapkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Akibatnya, harga minyak global melonjak tajam, memicu kekhawatiran analis akan potensi resesi ekonomi global. Situasi ini tentu menekan Trump, mendorong pemerintahannya mengizinkan penjualan minyak Rusia yang disanksi untuk meredakan krisis energi. Namun, upaya AS menekan sekutunya menjaga selat itu belum membuahkan hasil.
Menariknya, respons Trump terhadap situasi ini justru penuh kontradiksi. Pada satu sisi, ia mengancam akan "melenyapkan" (obliterate) pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tak dibuka dalam 48 jam. Namun, sehari sebelumnya, Trump justru menyatakan AS sedang "mengurangi" (winding down) operasi militernya di Iran. Analis menilai Trump memulai perang tanpa tujuan yang jelas dan salah perhitungan mengenai respons Teheran, membuat konflik kian meluas di seluruh Timur Tengah.
Di media sosial, Trump membeberkan tujuan perang: melumpuhkan kapasitas rudal, menghancurkan basis industri pertahanan, melenyapkan angkatan laut dan udara Iran, mencegah Iran memiliki senjata nuklir, serta melindungi sekutu di Timur Tengah dan mengamankan Selat Hormuz. Meski Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berulang kali mengklaim kemampuan militer Iran "sudah hancur total," Teheran tetap mampu melancarkan serangan balasan. Para pejabat militer AS sendiri mengakui meski sudah melakukan bombardir besar-besaran, mereka belum berhasil membatasi kemampuan Iran mengganggu Selat Hormuz.
Dengan pesan yang saling bertentangan ini, publik bertanya-tanya: apakah Trump ingin mengakhiri perang, atau justru memperluasnya? Ketidakjelasan strategi Washington kini menjadi sorotan utama dan berpotensi memperkeruh stabilitas global.