TERUNGKAP! TRUMP BOM IRAN SAAT DIPLOMASI MASIH BERJALAN? - Berita Dunia
← Kembali

TERUNGKAP! TRUMP BOM IRAN SAAT DIPLOMASI MASIH BERJALAN?

Foto Berita

Serangan yang diperintahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Iran, termasuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menuai banjir pujian dari sekutu-sekutu Republikannya. Ironisnya, dukungan ini datang di tengah narasi yang menegaskan kekuatan kelompok garis keras kebijakan luar negeri dalam Partai Republik, meskipun ada sayap non-intervensionis dalam gerakan 'Make America Great Again' (MAGA) Trump.

Para petinggi Republik, seperti Ketua DPR Mike Johnson, kompak menyuarakan dukungan, mengklaim bahwa Trump telah berupaya menempuh jalur damai dan diplomatik sebelum melancarkan serangan. Mereka juga menuding Iran atas 'tindakan jahat', ambisi nuklir, terorisme, hingga pembunuhan warga Amerika dan rakyatnya sendiri. Senada, Senator Chuck Grassley dan politisi lain seperti Randy Fine yang dikenal anti-Muslim, turut membela serangan tersebut, dengan Fine bahkan menyerukan 'potong kepala ular teror Muslim' untuk 'membawa perdamaian abadi' ke Timur Tengah.

Namun, di balik narasi pembelaan ini, terkuak fakta mengejutkan yang tidak banyak diungkap media arus utama: Trump justru memerintahkan pengeboman Iran, dalam operasi gabungan dengan Israel, saat negosiator AS dan Iran masih dalam proses perundingan. Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, yang menjadi mediator perundingan tidak langsung itu, bahkan meyakini kesepakatan damai sudah di depan mata.

Klaim bahwa diplomasi telah diupayakan secara maksimal sebelum serangan ini dilakukan, terbantahkan dengan fakta negosiasi yang masih berlangsung. Ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara retorika politik yang disajikan kepada publik dengan kenyataan di lapangan. Pemboman di tengah upaya diplomasi yang sedang berjalan bisa berdampak serius terhadap kepercayaan antarnegara dan merusak prospek perdamaian jangka panjang di kawasan yang rentan ini. Bahkan suara-suara konservatif yang sebelumnya kritis terhadap perang, seperti podcaster Tucker Carlson, cenderung bungkam. Hanya Marjorie Taylor Greene, mantan sekutu Trump, yang menyuarakan keberatan, mempertanyakan apakah perang dengan Iran benar-benar melayani kepentingan AS.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook