Doha, Qatar — Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, angkat bicara di hadapan Dewan Syura soal situasi panas di kawasan Timur Tengah. Dalam pidatonya di Doha, Selasa lalu, ia menegaskan bahwa negaranya tetap kokoh meski diterpa berbagai 'peristiwa luar biasa' akibat perang AS-Israel melawan Iran.
Sheikh Tamim menyebut, krisis yang berlangsung sejak 28 Februari itu justru membuktikan solidnya institusi negara. Qatar memang jadi salah satu sasaran langsung serangan Iran. Pada Maret lalu, Teheran menembak fasilitas gas Ras Laffan—situs produksi LNG terbesar di dunia. Insiden ini sempat memicu kekhawatiran global akan krisis energi.
Meski begitu, Emir menegaskan Qatar mampu menyerap dampak ketidakstabilan kawasan berkat kebijakan yang sudah disiapkan jauh sebelum perang meletus. Ia juga menegaskan preferensi Doha adalah menyelesaikan konflik lewat jalur damai dan dialog.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ditawar: keamanan kawasan Teluk. 'Keamanan negara-negara GCC dan kedaulatan mereka adalah harga mati,' tegasnya.
Perang ini juga mengacaukan jalur suplai global, terutama Selat Hormuz yang diblokir Iran. Sheikh Tamim meminta upaya pengamanan jalur laut digandakan untuk melindungi fasilitas energi dan infrastruktur sipil.
Analisis: Pernyataan Emir ini sinyal tegas bahwa Qatar tidak akan tinggal diam jika kedaulatan kawasan terus diganggu. Bagi masyarakat global, ancaman blokade Selat Hormuz berarti harga energi dan barang bisa melonjak. Sementara bagi Indonesia, ketegangan di Teluk bisa berdampak pada harga BBM dan inflasi. Dialog damai tetap jadi jalan terbaik, tapi militerisasi kawasan tampaknya sulit dihindari jika konflik terus memanas.