IRAN MEMANAS: RAKYAT TERJEBAK PESAN KONFLIK PEMIMPIN - Berita Dunia
← Kembali

IRAN MEMANAS: RAKYAT TERJEBAK PESAN KONFLIK PEMIMPIN

Foto Berita

Teheran, Iran—Di tengah gempuran serangan udara dan misil yang terus berkecamuk, rakyat Iran kini dihadapkan pada dilema besar: pesan berbeda dari pemimpin di dalam dan luar negeri. Situasi semakin rumit akibat terputusnya akses internet dan terbatasnya komunikasi seluler, membuat warga kesulitan menentukan langkah di tengah ketegangan yang memuncak.

Ketegangan ini bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan serentak ke berbagai wilayah Iran, yang langsung dibalas Teheran dengan gelombang serangan misil dan drone ke sejumlah titik di kawasan. Pemerintah Iran pun mengambil langkah cepat, mengirimkan pesan teks kepada sekitar 10 juta warga Teheran pada Sabtu sore, menganjurkan mereka untuk berpindah ke pusat atau kota lain jika memungkinkan, namun tetap tenang.

Respons warga tak terhindarkan. Jalan-jalan keluar dari ibu kota langsung macet parah sejak pagi. Antrean panjang juga terlihat di stasiun pengisian bahan bakar. Meski pemerintah meyakinkan pasokan makanan dan bahan bakar aman serta menyatakan tetap memegang kendali, warga yang mencoba keluar kota sampai harus difasilitasi dengan stasiun pengisian bahan bakar dadakan di pinggir jalan. Banyak keluarga dilaporkan menuju tiga provinsi di utara dekat Laut Kaspia, mengulang pola saat perang 12 hari dengan Israel sebelumnya.

Namun, di tengah himbauan evakuasi parsial dari pemerintah Iran, muncul pesan yang bertolak belakang dari luar. Mantan Presiden AS Donald Trump, melalui pesan video tak lama setelah serangan dimulai Sabtu, justru mendesak rakyat Iran untuk tetap di rumah dan menunggu waktu yang tepat untuk bangkit menggulingkan rezim teokratis. Ia menyebut ini "mungkin satu-satunya kesempatan dalam beberapa generasi." Pesan serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi Islam 1979, yang menyerukan agar warga siap kembali ke jalan untuk "upaya terakhir."

Pesan-pesan yang saling bertolak belakang ini tentu menambah kebingungan dan ketidakpastian bagi rakyat Iran yang sudah berada di bawah tekanan konflik. Pembatasan akses komunikasi kian memperkeruh suasana, memicu spekulasi dan disinformasi. Ini bukan kali pertama rakyat Iran menghadapi gejolak besar. Pada Januari lalu, protes nasional yang meluas di Iran menewaskan ribuan warga sipil, dengan PBB dan organisasi HAM internasional menuding pasukan negara bertanggung jawab atas penindasan yang brutal. Protes mahasiswa juga pecah pekan lalu di Teheran dan kota-kota besar lainnya, termasuk Mashhad dan Shiraz.

Kondisi ini menciptakan potensi krisis kemanusiaan yang serius, dengan jutaan warga berisiko menjadi korban langsung dari konflik dan ketidakpastian politik. Di sisi lain, tekanan dari luar untuk memicu revolusi internal bisa memperparah perpecahan di masyarakat, menjebak mereka dalam pusaran konflik yang lebih dalam dan berkepanjangan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook