Dunia kini tengah menghadapi krisis minyak terparah sepanjang sejarah, demikian peringatan dari International Energy Agency (IEA). Situasi panas di Timur Tengah, khususnya akibat tindakan Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, kini menghambat lebih dari 20 juta barel minyak per hari β seperlima dari total konsumsi global. Kondisi ini jauh melampaui dampak embargo minyak 1973.
Sebagai perbandingan, krisis 1973 yang dipicu oleh negara-negara Arab sebagai respons atas dukungan Washington terhadap Israel, kala itu hanya menghentikan pasokan sekitar 4,5 juta barel minyak per hari. Kini, IEA menyebut adanya βperangβ yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai latar belakang krisis saat ini, dengan Iran secara signifikan membatasi akses di jalur vital Selat Hormuz.
Konsekuensinya langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, langsung meroket dari sekitar $66 kini tembus di atas $100 per barel. Untuk meredakan ketegangan pasar dan menjaga stabilitas, IEA bersama 32 negara anggotanya telah sepakat untuk melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka. Tak hanya itu, IEA juga mengeluarkan panduan bagi konsumen dan pelaku bisnis, merekomendasikan agar masyarakat mengurangi bepergian, bekerja dari jarak jauh, dan beralih menggunakan listrik untuk memasak sebagai pengganti gas.
Namun, para ahli ekonomi dan energi pesimis langkah-langkah darurat ini akan cukup untuk mengatasi krisis global jika situasi di Timur Tengah tak kunjung membaik. Dampak domino dari krisis ini sangat nyata bagi masyarakat. Selain lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tak terhindarkan, biaya diesel, minyak pemanas, hingga avtur juga akan terkerek naik. Ini berarti biaya transportasi dan logistik akan membengkak, berpotensi memicu inflasi harga barang kebutuhan pokok dan melambatkan roda ekonomi global secara signifikan.
Krisis ini menjadi pengingat pahit bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah terus menjadi pemicu utama krisis energi dunia, sebuah pola yang berulang dari episode embargo minyak lebih dari lima dekade lalu. Masyarakat perlu bersiap menghadapi kenaikan biaya hidup yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.