Menjelang pemilu sela (midterms) Amerika Serikat pada 3 November mendatang, kebijakan penegakan imigrasi keras yang diusung Presiden Donald Trump justru menuai polemik di tengah masyarakat. Hasil survei terbaru Fox News yang dilakukan pada September lalu mengungkapkan bahwa 53 persen pemilih terdaftar merasa tindakan penindakan imigrasi tersebut telah 'terlalu jauh'.
Angka tersebut bahkan lebih tinggi di kalangan demografi yang biasanya menjadi penentu kemenangan Partai Republik. Sebanyak 60 persen pemilih independen menilai upaya Trump telah melampaui batas. Sementara itu, dua pertiga responden dari komunitas Hispanik juga menyatakan hal serupa, menandakan pergeseran fokus politik dari sekadar keamanan perbatasan menjadi cara pelaksanaan operasi penegakan hukum.
Kasus penangkapan Joceline Penaloza Magana, seorang mahasiswi berprestasi berusia 23 tahun yang ditahan ICE di Houston, Texas, menjadi sorotan. Keluarganya menolak narasi pemerintah yang menyebut target operasi adalah 'penjahat terburuk', mengingat Joceline tidak memiliki catatan kriminal dan dibawa ke AS sejak usia balita.
Meskipun Administrasi Trump melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengklaim telah menargetkan kriminal berat dan mencatat rekor penangkapan lebih dari 50.000 orang dalam dua bulan berturut-turut, kritikus mempertanyakan statistik tersebut. Mereka menilai angka 70 persen tahanan yang disebut kriminal itu cacat hukum karena memasukkan tersangka yang belum terbukti bersalah di pengadilan.