JAKARTA - Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin terjepit. Satu tahun setelah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, Israel justru memperluas pendudukan militernya secara sepihak. Fakta terbaru menunjukkan bahwa hampir dua pertiga atau sekitar 65 persen wilayah Gaza kini berada dalam kendali militer Israel atau terkena pembatasan akses yang ketat.
Kondisi ini memaksa sekitar 2,1 juta warga Palestina berdesakan di sisa wilayah yang semakin sempit. Padahal, dalam peta 'Garis Kuning' (Yellow Line) yang disepakati dalam rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump, pasukan Israel seharusnya melakukan penarikan mundur bertahap. Namun, realitas di lapangan berkata lain; militer Israel malah menggeser blok beton kuning puluhan meter ke arah barat di lingkungan Shujayea, Gaza City, dan memaksa keluarga Palestina mengungsi kembali.
Dampak bagi masyarakat sangat fatal. Lebih dari 90 persen populasi Gaza telah mengalami pengungsian paksa berulang kali selama tiga tahun terakhir. Wilayah yang tadinya termasuk paling padat di dunia dengan 6.000 orang per kilometer persegi, kini harus menampung manusia di area yang jauh lebih kecil dari batas awal. Warga sipil dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan di zona konflik atau mengungsi ke tempat yang tidak menjamin keselamatan. Situasi ini memperparah krisis kemanusiaan yang sudah melanda Gaza sejak blokade tahun 2007.