Pemerintah Yaman yang diakui internasional menuding kelompok Houthi melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Bandara Internasional Aden. Dalam pernyataan Kementerian Transportasi, setidaknya dua rudal balistik dan sejumlah drone menyasar landasan pacu serta terminal penumpang bandara tersebut.
Yang bikin merinding, salah satu rudal mendarat di dekat landasan hanya beberapa menit sebelum pesawat dari Kairo, Mesir, dijadwalkan mendarat. Otoritas bandara langsung membatalkan pendaratan pesawat itu dan mengalihkannya ke Jeddah, Arab Saudi, demi keselamatan penumpang. Terminal juga dikosongkan dan dua pesawat yang terparkir di apron segera dipindahkan dari area berbahaya.
Kementerian Transportasi menegaskan insiden ini nyaris berubah menjadi bencana kemanusiaan besar. Bayangkan saja, sebuah penerbangan sipil penuh penumpang tak berdosa hampir saja menjadi korban serangan militer.
Bandara Aden sendiri merupakan gerbang internasional utama bagi wilayah Yaman yang berada di luar kendali Houthi. Kota ini menjadi pusat pemerintahan sejak kelompok yang didukung Iran itu merebut ibu kota Sanaa pada 2014.
Houthi mengklaim serangan mereka menyasar "pasokan militer Saudi" yang tiba di Kamp Badr dekat bandara. Sementara itu, koalisi militer pimpinan Saudi mengaku berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan Houthi di utara Riyadh. Juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, menyatakan pihaknya melacak platform peluncuran rudal melalui sistem intelijen di atas Sanaa dan berjanji akan menghancurkannya.
Houthi juga mengklaim telah menargetkan bandara internasional Saudi di Riyadh dan Abha. Eskalasi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat perang AS-Israel terhadap Iran. Pasukan pemerintah yang didukung Saudi melancarkan serangan balik untuk merebut kembali pelabuhan Mocha di Laut Merah dan area sekitar Selat Bab al-Mandeb, dengan pertempuran terpusat di provinsi Taiz bagian barat daya.
Dampaknya bagi masyarakat Yaman sangat besar. Bandara Aden adalah satu-satunya jalur udara internasional yang tersisa bagi jutaan warga di wilayah selatan. Jika bandara ini terus diserang, bantuan kemanusiaan dan mobilitas warga sipil akan lumpuh total. Masyarakat internasional mendesak kedua pihak untuk tidak menjadikan infrastruktur sipil sebagai target, karena melanggar hukum humaniter internasional.