Washington, AS – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mendapat tekanan keras dalam sidang dengar pendapat di Kongres, Rabu (19/3/2025). Seorang anggota parlemen dari Partai Demokrat, Joaquin Castro, melontarkan pertanyaan panas: apakah Israel memiliki senjata nuklir? Namun, Rubio memilih bungkam dan mengelak memberikan jawaban terbuka.
"Kebanyakan negara di dunia menganggap mereka (Israel) memilikinya," ujar Rubio di hadapan Komite Urusan Luar Negeri DPR AS. Ia menolak mengungkapkan posisi resmi Washington dan mengusulkan masalah ini dibahas dalam forum tertutup. Sikap ini, menurut Rubio, adalah 'ciri khas' kebijakan luar negeri AS yang selama puluhan tahun tabu membahas program nuklir Israel.
Castro tidak puas. Ia mendesak agar transparansi diberikan, terutama saat AS dan Israel tengah berperang bersama melawan Iran. "Jika mereka benar-benar punya senjata nuklir, kami tidak tahu garis merah mereka untuk menggunakan senjata itu. Mengejutkan pemerintah tidak memberi informasi ini kepada pengawas kami untuk mengambil keputusan perang," tegas Castro.
Israel memang bukan anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan tidak pernah secara resmi mengakui kepemilikan bom atom. Namun, intelijen global serta pernyataan pejabat Israel sendiri, seperti Menteri Warisan Amichai Eliyahu yang menyebut opsi bom nuklir di Gaza pada November 2023, memperkuat dugaan tersebut. Situasi ini kian rumit karena AS terus mengucurkan miliaran dolar bantuan militer ke Israel di tengah tuduhan genosida di Gaza oleh PBB dan kelompok HAM.
Analis menilai pengelakan Rubio menunjukkan dilema besar AS: di satu sisi ingin mengontrol proliferasi nuklir global, di sisi lain melindungi sekutu dekatnya. Sikap ini bisa memicu krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah AS, terutama saat perang dengan Iran memanas. "Ini bom waktu diplomatik. Publik berhak tahu sejauh mana sekutu kita bisa bertindak," ujar seorang pengamat hubungan internasional.