Perang di Gaza tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga masa depan anak-anak berkebutuhan khusus. Kisah Kenan al-Sabaa, remaja 13 tahun asal Gaza City, menjadi potret pilu bagaimana konflik berkepanjangan ini merampas hak pendidikan dan rasa aman bagi penyandang disabilitas sensorik.
Kenan, yang mengalami gangguan pendengaran, kini kesulitan mendapatkan akses layanan kesehatan dan pendidikan yang layak. Alat bantu dengar miliknya rusak, sementara suku cadang dan baterai tidak tersedia akibat blokade yang membatasi masuknya barang ke wilayah tersebut. Sebelum perang, Kenan rutin belajar di Atfaluna Society for Deaf Children, sebuah lembaga yang memberikan pendidikan khusus dan ruang bersosialisasi. Namun, gedung sekolah tersebut kini telah hancur sebagian dan berubah fungsi menjadi tempat penampungan pengungsi.
Meski pihak sekolah telah mendirikan ruang belajar darurat, proses belajar Kenan tidak berjalan optimal. Ayahnya, Tamer al-Sabaa, mengungkapkan bahwa putranya hanya mendapat kelas dua jam sehari selama tiga hari dalam seminggu. Situasi ini diperparah dengan hilangnya satu tahun penuh pembelajaran akibat eskalasi konflik. Keterbatasan jam belajar dinilai tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan akademis yang sangat jauh.
Kekhawatiran terbesar Tamer bukan hanya soal akademis, melainkan keselamatan nyawa. Sebagai penyandang tunarungu, Kenan tidak bisa mendengar suara sirine atau ledakan bom. Hal ini membuat mobilitasnya sangat berbahaya. Orang tuanya terpaksa harus mengajarinya mengenali lingkungan sekitar secara manual agar bisa mandiri, meski risiko keselamatan terus membayangi.
Fadel Kuraz, advokat hak disabilitas di Atfaluna, menyebut situasi ini sebagai kemunduran kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang telah meningkatkan angka cedera pendengaran sekaligus melumpuhkan layanan pendukung bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Minimnya fasilitas dan tenaga ahli membuat anak-anak seperti Kenan semakin terpinggirkan di tengah krisis kemanusiaan yang melanda Jalur Gaza.