Suasana ketakutan dan kewaspadaan tinggi kini menyelimuti kehidupan minoritas etnis, khususnya Muslim, di Inggris dan Skotlandia. Gelombang kebencian dan insiden rasial dilaporkan semakin meningkat, membuat mereka merasa terancam dan dilupakan di tanah sendiri.
Dari Basildon, Essex, seorang ibu Muslim bernama Nabila mengungkapkan serangkaian kejadian miris. Mulai dari pelemparan kaca ke arah anak-anak Muslim, vandalisme salib merah dan tulisan 'Christ is King' serta 'This is England' di dinding masjid lokal, hingga laporan pengemudi yang sengaja mempercepat laju mobil saat wanita Muslim menyeberang jalan bersama anak-anak. Mirisnya, Basildon didominasi kulit putih (93%) dengan Muslim kurang dari 2%, menjadikan komunitas minoritas di sana sangat rentan.
Kondisi ini memaksa banyak warga untuk mengubah rutinitas harian mereka. Wanita Muslim seringkali merasa harus terus waspada, bahkan seorang ibu bernama Zarka sampai harus menghentikan sementara aktivitas mengantar anaknya ke sekolah selama dua minggu setelah dihina karena mengenakan hijab. Di Glasgow, Skotlandia, seorang anak berusia tujuh tahun bernama Anisa juga mengalami pelecehan rasial di sekolahnya selama dua tahun, hingga ibunya, Etka Marwaha, terpaksa memindahkannya. Pihak sekolah, menurut Marwaha, gagal menjalankan tugasnya dalam melindungi siswa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sentimen rasisme dan xenofobia di Inggris kini telah menembus sendi-sendi kehidupan masyarakat. Peningkatan normalisasi kebencian ini, yang mungkin dipicu oleh narasi politik tertentu atau isu-isu sosial ekonomi pasca-Brexit, mengikis kohesi sosial dan menciptakan jurang pemisah. Insiden-insiden seperti ini, yang seringkali tidak tertangani dengan baik oleh pihak berwenang, membuat minoritas merasa terpinggirkan dan tidak aman, membahayakan prinsip keberagaman dan inklusi yang seharusnya dijunjung tinggi oleh sebuah negara maju.